Logo
http://baliculturegov.com/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/4897911gedung_disbud_fhdr.jpg http://baliculturegov.com/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/3113892bajra_sandhi.jpg http://baliculturegov.com/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/8829383art_center.jpg http://baliculturegov.com/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/2915184museum_bali.jpg http://baliculturegov.com/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/1827065Barong_banner.jpg http://baliculturegov.com/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/2329116sawah.jpg
Thursday, 31 July 2014
Konsep-konsep Budaya
PDF Print E-mail

ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA LONTAR

KRAMA PURA, PUTRU PASAJI, TATTWA SANGKANING DADI JANMA,

DEWA RUCI, CATUR YUGA (2008)

 

  1. KRAMA PURA

Lontar Krama Pura yang dialihaksarakan ini adalah lontar yang ditulis oleh Putu Mangku dari Banjar Jro Dikit Seririt pada Tahun Saka 1919 (1997 M). Lontar Krama Pura tergolong naskah muda karena dilihat dari bahasa yang dipakai sebagai wahananya yaitu bahasa Kawi-Bali. Lontar ini termasuk lontar sesana, yang lebih mengkhusus pada tata cara masuk tempat suci.

Dalam lontar ini disebutkan bahwa orang yang bertindak sebagai pengemong pura hendaknya waspada dan mematuhi ajaran Sangyang Dewa Sasana tentang tata cara orang masuk pura. Bila krama desa ingin menghaturkan sesajen, pada saat membuat hendaknya disucikan dahulu dengan tirtha dari Sulinggih karena sesajen yang tidak diperciki tirtha dianggap kotor (leteh). Penyebab kekotoran itu adalah dilangkahi anjing, dilangkahi manusia, dipakai mainan oleh anak-anak, hasil belanjaan di pasar yang dijual oleh orang kotor, diterbangkan ayam, kena rambut, bedak, ludah. Bila banten tersebut dihaturkan, dianggap akan dapat mengusir dewa dan mengundang bhuta.

Selain itu, orang yang tidak boleh masuk pura adalah orang gila, orang yang menstruasi, orang cuntaka karena kematian, pencuri. Di areal pura, orang dilarang untuk marah sampai memaki-maki, bicara ngacuh, bersanggama, berselingkuh, bahkan untuk memperbaiki pakaian. Yang paling dilarang masuk pura adalah orang panten (orang yang dosanya tidak terampuni), yaitu orang yang memperkosa, yang laki-laki dari golongan sudra sedangkan wanitanya dari golongan tri wangsa (brahmana, ksatriya, wesya). Orang yang mengawini yang tidak patut dikawini (gamia-gamana) juga dilarang masuk pura. Ada juga yang disebut cacilaka, yaitu seorang wanita yang telah cukup umur namun tidak menstruasi, walaupun sudah berobat pun juga tidak menstruasi, dilarang masuk pura lebih-lebih untuk membuat perlengkapan sesajen.

 

  1. PUTRU PASAJI

Lontar yang dialihaksarakan ini adalah lontar koleksi pribadi Perpustakaan Lontar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Dalam lontar ini disebutkan ada ikan/daging yang dilarang untuk dijadikan persembahan, karena akan menghilangkan kesucian sehingga kembali pada papa dan neraka. Dalam Pitra Yadnya, ada banyak jenis ikan yang dapat dijadikan persembahan kepada sang pitara. Lamanya kesenangan yang dapat diberikan oleh masing-masing ikan berbeda. Ikan laut kualitasnya paling rendah karena dapat memberikan kesenangan hanya selama satu bulan. Sedangkan ikan/daging yang kualitasnya tertinggi adalah badak, karena akan dapat memberikan kesenangan selamanya di sorga.

Dalam lontar ini disebutkan juga nama beberapa gunung seperti: Gunung Malaya, Suktiman, Wreksawan, Himawan, Makuta, dan Nindana yang harus dilalui oleh para pitara menuju sorga. Pada gunung-gunung itulah tempat penyiksaan para pitara yang berdosa menunggu untuk dientas agar bisa masuk sorga. Pitara yang telah dientas kemudian masuk sorga memperoleh penyambutan yang luar biasa dari makhluk-makhluk kahyangan. Dengan diantar oleh burung kahyangan, Sang Wimana, sang pitara dapat menyaksikan keindahan masing-masing sorga.

Dalam sorga disebutkan ada banyak sorga seperti: Iswarapada, Brahmaloka, Budhaloka, Wisnupada, Swarga Manik, Sri Manuh, Indrapada, Darapada, Wilasatya, Siwapada, Ganda Langha Jandewa Pralabda, dan lain-lain. Sorga-sorga itulah tempat bagi atma yang telah dientas dan sesuai dengan pekerjaannya di bumi ketika masih hidup. Misalnya, ketika masih hidup dia suka belajar, menggubah kidung, pralambang, akan tinggal di Swarga Manik, yaitu kahyangan Sanghyang Saraswati.

Amanat dari Lontar Putru Pasaji ini adalah agar keluarga yang ditinggalkan segera melaksanakan upacara bagi yang meninggal, agar tidak berlama-lama menderita dan bisa segera masuk sorga. Dalam melaksanakan upacara agar dipilih ikan/daging yang dianjurkan agar dapat memberikan kesenangan kepada para pitara di sorga. Sesorang jika telah berhasil melaksanakan upacara terhadap orang yang telah meninggal, ia akan memperoleh pahala dari pelaksanaan upacara itu. Ada empat pahala yang akan dinikmati, seperti: saksi, bhakti, sura, dan wira. Lebih-lebih jika upacara itu dilaksanakan dengan didasari hati yang suci dan tulus ikhlas.

 

  1. TATTWA SANGKANING DADI JANMA

Tattwa Sangkaning Dadi Janma adalah sebuah pustaka lontar yang memuat ajaran tentang hakikat Siwa. Lontar ini mengacu pada pustaka yang lebih tua seperti, Bhuwanakosa, Wrehaspati Tattwa, Tattwa Jnana, Jnana Siddhanta, Ganapati Tattwa.

Materi Pokok yang diajarkan dalam pustaka Tattwa Sangkaning Dadi Janma adalah pengetahuan rahasia, yaitu tentang ilmu kadyatmikan, ilmu untuk melepaskan Sang Hyang Urip untuk kembali ke asalnya atau kamoksan, kalepasan, kesunyataan.

Janganlah mengajarkan kepada murid yang tidak mentaati tata krama. Dan kepada orang yang tidak terpelajar, rahasiakanlah ajaran Beliau para Resi, sebab murid yang pandai tetapi tidak bermoral, tidak mentaati tata krama dan tidak hormat kepada guru, itu akan mendapat petaka besar bagi si murid. Sebaliknya, walaupun murid itu agak kurang, kalau mentaati ajaran tata krama dari guru, pastilah murid itu akan berhasil.

 

 

 

 

  1. DEWA RUCI

Dewaruci dimulai dengan cerita keberangkatan Sang Bhima atas perintah Bhagawan Drona ke laut untuk mencari Toya Amreta. Terlihat olehnya tepi laut dengan ombaknya beriak, bergulung menerjang batu karang. Dengan tiada rasa takut ia menceburkan diri ke dalam laut, diempas gelombang, ditindih air.

Tiba-tiba datanglah seekor ular besar bernama Si Nakatnawa mengambang di atas air. Ular yang sedang kelaparan itu kemudian menyerang Sang Bhima dengan sangat buas. Akan tetapi ular tersebut akhirnya dapat ditangkap oleh Sang Bhima, lalu dipotong-potong dengan kukunya sehingga air laut menjadi merah karena darah ular itu.

Tersebutlah Sang Hyang Wisesa, sangat kasihan terhadap Sang Bhima. Sang Bhima sangat senang melihat Sang Hyang Wisesa yang berbadan kecil seperti boneka. Sang Hyang Wisesa bertanya apa tujuan Sang Bhima datang ke tengah laut yang berbahaya itu. Sang Bhima pun menjawab bahwa tentunya Sang Hyang Wisesa telah mengetahuinya. Sang Bhima kemudian menanyakan nama Sang Hyang Wisesa sebagai resi berbadan kecil. Sang resi menjawab ia adalah Dewaruci. Kemudian ia memberi wejangan kepada Sang Bhima agar jangan gegabah berbuat. “Janganlah mencari bila belum tahu apa yang dicari”.

Dewaruci senang karena sang Bhima mau menerima ajarannya. Ia menyuruh Sang Bhima masuk ke dalam garbanya (perutnya) melalui telinga kirinya. Setelah Sang Bhima masuk, dilihatlah olehnya lautan yang amat luas, alam kosong. Kemudian Sang Resi kembali mewejang tentang indriya, tentang dasa, tiga musuh sang pertapa, tentang subyek dan obyek, tentang yang tunggal menjadi banyak, tentang jiwa, tentang Tuhan yang tanpa wujud, tanpa ruang.

 

  1. CATUR YUGA

Lontar ini pada intinya menceritakan tentang seorang raja yang bertahta di kerajaan Purbbhasasana bergelar Maharaja Bhanoraja sedang mencari pertimbangan dari para pendeta, para mahaguru, para mentri, dll., perihal putrinya yang bernama Dewi Ratnarum yang hendak dilamar oleh raja dari Negara Sunyantara yang bergelar Sri Maharaja Rekatabyuha yang sangat kaya dan gagah berani, akan tetapi berjiwa jahat karena dipengaruhi oleh zaman kali.

Para pendeta, mahaguru pun memberi pertimbangan/petuah kepada sang raja. Pada zaman dahulu, disebutkan bahwa Hyang Parameswara (Sang Hyang Siwa) memberikan ajaran tentang Catur Yuga. Empat perbedaannya yaitu: Kretha Yuga, Traita Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Kretha Yuga lamanya 4.444.400 tahun, Traita Yuga 3.333.300 tahun, Dwapara Yuga 2.222.200 tahun, dan Kali Yuga 1.111.100 tahun lamanya.

 

 

 

Pada zaman Kretha Yuga, keadaan manusia tidak banyak mengalami perubahan, tidak tertimpa rasa sakit, tidak akan mati semasih bayi, tidak memikirkan baik buruk, mati hidup, suka duka, sakit lapar. Adapun umur manusia pada Zaman Kretha Yuga adalah seratus ribu tahun, sepuluh-puluh kurangnya, kecatur sunyaning rat.

Pada Zaman Traita Yuga, demikian juga tentang umur manusia selalu suka, lima ratus tahun umurnya, ukurannya lima-lima, tiga kakinya dunia, seperti air dalam perigi, berkurang sekendi dari tempurung kelapa, mendung yang tebal akan menjatuhkan hujan, selaku dalam keadaan suka semua manusia, tidak ingat dengan hari tua.

Zaman Dwapara Yuga, dua ratus tahun umurnya manusia, ukurannya dua-dua, dua kakinya dunia, demikianlah ukuran manusia patut disikapi, berlaksana harus bijaksana, pemberani, tahu tentang siasat, tahu dengan tanda-tanda, dapat mengendalikan indera, sayang kepada orang melarat, kasih kepada orang yang tahu membalas budi, taat aturan, melaksanakan ajaran weda, dll.

Zaman Kali Yuga, seratus tahun umurnya manusia, ukurannya satu-satu, satu kakinya dunia, itu sebabnya huru-hara di dunia, hampir-hampir rusak tiada tara, mendung tebal akan menurunkan hujan, perigi akan kering, nempuluh tahun penuh dengan kekerasan, itu yang disebut sapta, tiada tenggelam di Barat, selalu berpisah tiada mau bersatu, dari Utara datangnya ciri-ciri yang tidak baik. Dari hal itu timbullah Tri Mala. Itulah sebanya dunia manjadi kacau, bisa merajalela menyakiti, merampok, memperkosa, membunuh sesama manusia yang tidak berdosa, aneka rupa kejahatan di muka bumi, yang berlaksana benar mati, yang sombong hidup dan mendapatkan kesenangan, tamak, bersifat kejam.

 

 


ALIH AKSARA, ALIH BAHASA DAN KAJIAN LONTAR SUNDARIGAMA (2007)

 

LONTAR SUNDARIGAMA

Lontar Sundarigama menggunakan bahasa Kawi, dan mengandung teks yang bersifat filosofis-religius karena mendeskripsikan norma-norma, gagasan, perilaku, dan tindakan keagamaan, serta jenis-jenis sesajen persembahan yang patut dibuat pada saat merayakan hari-hari suci umat Hindu Bali, mengajarkan kepada umatnya untuk berpegang kepada hari-hari suci berdasarkan wewaran, wuku, dan sasih dengan mempergunakan benda-benda suci/yang disucikan seperti api, air, kembang, bebantenan disertai kesucian pikiran terutama dalam mencapai tujuan yang bahagia lahir bathin (moksartam jagadhita) berdasarkan agama yang dianutnya. Teks Sundarigama merupakan penuntun dan pedoman tentang tata cara perayaan hari-hari suci Hindu yang meliputi aspek tattwa (filosofis), susila, dan upacara/upakara.

Teks sundarigama tidak hanya mendeskripsikan hari-hari suci menurut perhitungan bulan (purnama atau tilem) atau pun pawukon serta jenis-jenis upakara yang patut dibuat umat Hindu pada saat merayakan hari-hari suci tersebut, tetapi juga menjelaskan tujuan bahkan makna perayaan hari-hari suci tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan dan makna perayaan hari-hari suci umat Hindu menurut Lontar Sundarigama adalah menjaga keseimbangan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan /Ida Sanghyang Widhi Wasa; Hubungan manusia dengan manusia; dan hubungan manusia dengan alam lingkungan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa umat Hindu Bali melakukan upacara agama adalah dari dan untuk keselamatan alam semesta beserta seluruh isinya.

 

 




KAJIAN ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA LONTAR PENUGRAHAN DALEM (2001)

 

LONTAR PENUGRAHAN DALEM

Lontar Penugrahan Dalem ini menggunakan bahasa Bali, sehingga menandakan bahwa Lontar ini bukanlah lontar kuna. Penugrahan Dalem merupakan salah satu dari sekian banyak lontar yang mengungkapkan kehidupan dunia “mistik” masyarakat Bali, baik “kiwa” maupun “tengen”. Pada naskah ini banyak diajarkan mengenai sesuatu hal yang berkaitan dengan kekuatan dalam diri manusia (ilmu tenaga dalam) atau kesaktian. Mengingat isinya yang begitu “pingit”, maka di dalam mempelajari perlu pentahapan, dari tingkat yang paling sederhana sampai ke tingkat yang lebih tinggi agar tidak membingungkan, diperlukan persiapan batin yang matang dan mantap serta terolah secara meditatif. Itulah sebabnya, dalam Lontar Penugrahan Dalem ada kata “aywa wera”, “aywa cauh” yang tiada lain agar mempelajarinya haruslah berhati-hati dan harus dicamkan secara baik. Lontar ini mempunyai nilai kesakralan tinggi dan tidak sembarang orang bisa mempraktekkannya, sehingga perlulah kiranya orang yang ingin mempraktekkannya dibimbing oleh seorang guru pembimbing agar tidak terjadi kesalahan dalam mempraktekkannya.

 

 




ALIH AKSARA DAN TERJEMAHAN TUTUR BHUWANA MAREKA, TUTUR BRAHMOKTA WIDHISASTRA, TUTUR MEDANG KEMULAN (2001)

 

  1. TUTUR BHUWANA MAREKA

Tutur Bhuwana Mareka adalah lontar yang memuat ajaran tentang Siwa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa campuran antara Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sansekerta yang disajikan dalam bentuk sloka. Adapun materi pokok yang diajarkan dalam Lontar Bhuwana Mareka ini adalah pengetahuan tentang “ilmu kadyatmikan” yang dapat dijadikan oleh para yogi atau para jnanin untuk mencapai kalepasan/kamoksan.

Sang Hyang Mareka sesungguhnya adalah awal dan akhir segala yang ada. Ia adalah Sunya, pokok ajaran Bhuwana Mareka. Ia adalah Sang Hyang Utama yang sesungguhnya tidak diketahui oleh siapapun. Rahasia diantara yang rahasia. Ia yang misteri ini selalu dirindukan oleh orang-orang suci, maka selalu direnungkan dalam sanubari. Ialah tujuan dan hakekat ajaran kamoksan. Sesungguhnya Ia esa dan suci, ada di mana-mana, ada pada segala, inti alam semesta. Ialah yang disebut dengan berbagai nama menurut kedudukan, fungsi dan harapan pemuja-Nya.

Dalam rangka kamoksan dan kadyatmikan, Ia yang dimohon hadir berwujud Istadewata dalam meditasi penghayatnya. Untuk mencapai penghayatan sebagai yang diharapkan, ada sadana yang harus ditaati oleh si penghayat, sebagai yang tertuang dalam berbagai Kaputusan sebagai yang diajarkan dalam teks ini.

 

  1. TUTUR BRAHMOKTA WIDHISASTRA

Brahmokta Widhisastra adalah sebuah lontar yang cukup tua. Uraian di dalam lontar ini ditulis dalam bentuk sloka dengan menggunakan bahasa Sansekerta, sedangkan penjelasannya menggunakan bahasa Jawa Kuna. Lontar ini menguraikan ajaran Kalepasan yang bersifat Siwaistik, diantaranya menjelaskan tentang hakekat Sanghyang Pranawa (Om). Semesta alam dan badan (manusia) adalah perwujudannya yang sekaligus pula sebagai jiwanya. Ia adalah obyek tertinggi kalepasan. Menjelaskan manfaat pranayama. Pranayama yang benar akan dapat membakar habis semua pennyakit, termasuk pula papa, dosa-dosa, triguna, dasendriya, sadripu, sehingga orang terbebas dari penyakit. Orang yang bebas dari penyakit akan panjang umur.

Selain itu, lontar ini juga menjelaskan tentang Catur Dasaksara (empat belas aksara). Keempat belas aksara itu memiliki kadar kesucian yang sama dan pahala sorga dan kamoksan yang sama pula, karena keempat belas aksara itu adalah merupakan badan Tuhan atau perwujudan Siwa yang disebut Catur Dasa Siwa (empat belas Siwa), yang merupakan obyek kalepasan dalam arti untuk mencapai kalepasan, maka keempat belas tempat Siwa itu bisa dituju sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Om adalah kalepasan tertinggi. Aksara mana yang dapat dipusatkan dalam pikiran kala kematian menjelang, maka ke sanalah ia menuju ke salah satu tempat Siwa. Orang yang telah mencapai tempat Siwa akan menikmati kesenangan dan tidak akan kembali duka karena itu disebut Siwa atau Sadasiwa. Ia juga disebut Iswara karena ia adalah pemilik keempat belas istana itu. Lontar ini juga berisi himbauan kepada guru agar di dalam mengajarkan mutiara ajaran Siwasiddhanta tertinggi ini tidak pada sembarang siswa, dan lain-lain.

 

  1. TUTUR MEDANG KEMULAN

Medang Kemulan merupakan salah satu dari sekian banyak lontar tutur yang memuat tentang ajaran Siwa. Secara garis besarnya, lontar ini menguraikan tentang percakapan Sang Hyang Dharma Siddhi dengan Sang Hyang Siddhi Mantra, tentang asal muasal aksara semua, tentang Catur Dasa Manu dan pemerintahannya, tentang keberadaan kitab-kitab sastra serta pengarangnya, begitu juga tentang Catur Wariga yang dikaitkan dengan kelahiran Sang Watugunung.

    • Tentang asal mula aksara berkaitan dengan pemerintahan Sang Hyang Catur Dasa Manu di Negeri Giridwipa Aikalaya. Dalam melaksanakan pemerintahannya, Beliau didampingi oleh dua orang pendeta utama yaitu Dang Hyang Romaharsana dan Bhagawan Baradwaja. Dari kedua orang suci inilah Sang Catur Dasa Manu mendapatkan berbagai pengetahuan, terutama pengetahuan mengenai silsilah para manu yang jumlahnya 14 dan pusat pemerintahannya.
    • Mengenai kitab-kitab sastra dan pengarangnya; Kitab Brahmanda Purana, menguraikan tentang asal mula para Brahmana yang diciptakan oleh Bhatara Siwa; Kitab Rajaniti yang berisi tentang ilmu pemerintahan; Aksara, Samuscayakreti, Adigama, Tretagama, yang memuat tentang ajaran susila disusun oleh Bhagawan Romaharsana. Tatwajnana menguraikan tentang ajaran filasafat untuk menuju kalepasan diciptakan oleh Bhatara Brahma. Kitab Asta Dasa Parwa yang dimulai dari Adi Parwa sampai dengan Aswameda Parwa, serta segala kitab yang berbentuk sloka dan sruti diciptakan oleh Bhagawan Biasa.
    • Mengenai terciptanya Wariga dengan Catur Wariganya sebagai penentuan hari baik dan buruk diciptakan oleh Bhatara Gana. Penciptaan Wariga ini merupakan perintah dari bhatara Siwa kepada Bhatara Gana, setelah Beliau mengutuk Watugunung agar dikalahkan oleh Sang Hyang Hari Bhuwana.

 

 


KAJIAN NASKAH LONTAR TUTUR KUMARATATWA (2003)

 

LONTAR TUTUR KUMARATATWA

Lontar ini menguraikan tentang hakikat kamoksan. Kamoksan itu pada prinsipnya adalah suatu proses yang tidak dapat dicapai secara sekaligus tetapi dicapai secara bertahap. Kamoksan merupakan proses penunggalan Yang Ada dengan Yang Tiada setelah mengalami pembebasan dari keterikatan duniawi. Yang Tiada (kekosongan) merupakan sumber segala sesuatu dan tujuan terakhir yang meleburkan segala sesuatu. Kekosongan itu merupakan awal, tengah, dan akhir segala spekulasi.

Tutur Kumaratatwa berisi ajaran filosofis tentang mengapa manusia menderita, dan bagaimana manusia melepaskan diri dari penseritaan. Adapun sumber penderitaan manusia adalah Dasendriya, dan manusia harus mampu mengendalikannya dengan cara mengenali dan memahami kejatidiriannya sehingga manusia dapat mengerahkan segala kekuatan yang ada di dalam dirinya.


ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA LONTAR ROGA SANGHARA BHUMI,

WASISTA TATTWA, DEWA TATTWA (2005)

 

  1. ROGA SANGHARA BHUMI

Pemilik babon Lontar Roga Sanghara Bhumi adalah Ida Padanda Gde Tembau, Geria Aan Klungkung. Lontar ini tergolong lontar muda dan disusun di Bali. Lontar ini dapat memberikan petunjuk apa yang dapat dilakukan pada saat bumi mengalami sanghara.

Sanghara tidak bisa ditolak, tidak bisa dihindari, pasti terjadi karena tarikan dari Sanghyang Catur Yuga yaitu Kali Yuga. Karena pengaruh Jaman Kali, maka manusia pada jaman itu teramat sangat kotor hingga mengotori bumi, sehingga dewa-dewa menjadi sangat murka kemudian menyebarkan malapetaka terhadap manusia di bumi. Sang Hyang Druwaresi yang berstana di langit memberikan tanda-tanda alam tidak baik yang disebut ‘Durmamanggala’ kepada manusia di bumi sebagai pertanda akan datangnya mala petaka.

Dalam Lontar Roga Sanghara Bhumi disebutkan durmanggala itu sangat banyak seperti; terjadi gempa secara terus-menerus, manusia/binatang mengadakan hubungan dengan bukan pasangannya, bahkan dengan bukan jenisnya (manusia dengan binatang, babi dengan anjing, dll.), wujud kelahiran yang tidak seperti biasanya, air hujan berwarna merah, diterjang banjir, dsbnya.

Apabila ada tanda-tanda seperti itu maka pendeta kerajaan agar tanggap dan segera melaksanakan upacara selamatan dengan mempersembahkan sesaji atau caru agar bencana dapat dinetralisir serta kebaikan dunia dapat dikembalikan.

 

  1. WASISTA TATTWA

Lontar ini berisi teks etika agama Hindu. Di bagian akhir teks terdapat penjelasan bahwa teks ini (juga) bernama Sang Hyang Bhuwana Purana. Teks tersusun atas dua bentuk; berbentuk sloka menggunakan bahasa Sansekerta, dan penjelasan/terjemahannya berbentuk uraian menggunakan bahasa Kawi.

Bhagawan Wasista memuja Bhatara Parameswara yang berstana di atas tahta padma-Nya di puncak Gunung Kailasa. Tujuannya menghadap Bhatara tiada lain adalah untuk menimba ajaran (etika agama) demi kerahayuan masyarakat. Atas permohonan Bhagawan Wasista itulah, maka Bhatara Parameswara menjabarkan ajaran.

Pertama-tama diajarkan tentang Catur Asrama, yaitu empat tahapan hidup untuk mencapai tujuan hidup. Keempat Catur Asrama (Brahmacari, Grehasta, Wanaprasta, Bhiksuka) tersebut tidak dibenarkan untuk mencampuradukkan kewajiban masing-masing. Ada upacara yadnya yang sepatutnya dilaksanakan di zaman Kali: uma yadnya, dewa yadnya, pitra yadnya, bhuta yadnya, pandita yadnya, dan manusa yadnya. Ada juga yang disebut catur jadma (brahmana, ksatriya, waisya, dan sudra). Ada pula manusia yang dikelompokkan di luar kelompok itu disebut kelompok pancakarma, astadasa candela, mleca, dan sadyatuca.

Lontar ini juga menguraikan tentang makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh seorang raja. Dalam melakukan hubungan asmara pun, seorang raja hendaknya hati-hati, memilih waktu yang tepat dan menjaga kestabilan emosi. Tidak materialistis, mengangkat pejabat yang bertugas mengatur keuangan kerajaan. Raja dan para pembesar kerajaan hendaknya menghormati dan belajar dari pendeta yang disebut pandita widhipati, yaitu pandita yang tahu ajaran hakikat. Pekerjaannya mengembara, tidak memakai perhiasan, tidak melaksanakan politik praktis.

 

  1. DEWA TATTWA

Adapun materi pokok yang diajarkan dalam Lontar Dewa Tatwa ini adalah uraian tentang tata upacara mendirikan bangunan suci, arca, dan juga bermacam pedagingan bangunan suci dengan segala upakaranya.

Dalam membangun tempat suci, seperti Meru, Gedong, Prasada, Padmasana, Ibu, semuanya hendak dilengkapi dengan Padagingan Nista, Madya, Utama. Tentang proses pembangunan tempat suci sepatutnya terlebih dahulu disucikan dengan upakara Prayascita, Suci, Pajati, Rayunan Putih Kuning, Pangambeyan, Sasayut Durmanggala, Pras, Panyeneng, Rantasan, Daksina, Sesari 500.

Tentang Kahyangan tempat suci yang terkena musibah (cuntaka) hendaknya disucikan dengan upacara Manyawang, mohon perkenan wara nugraha Sang Hyang widhi dengan rentetan upacara Ngenteg Linggih Bhatara, menghilangkan kekotoran, akhirnya melaksanakan upacara Pasasapuh dengan menghaturkan upacara Guru Piduka, dan lain-lain.

Selain itu, dalam lontar ini juga diuraikan mengenai Upacara Ngusabha Desa Nini dengan segala upakaranya, tata cara membangun Palinggih Prajapati dan juga upacara di Kuburan, upacara Malabuh Gentuh di laut, Panjegjengan Hyang Narmada, Pancawalikrama, tentang jenis sesayut dan kepada siapa ditujukan, tentang ruwatan Sang Hyang Aghora untuk menghilangkan segala kekotoran dalam tubuh, dll.

 


ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA LONTAR KUSUMADEWA,

WRATI SASANA, WARIGA KRIMPING (2006)

 

  1. KUSUMADEWA

Lontar ini memaparkan tentang gegelaran pamangku yang meliputi kegiatan pamangku dalam urutan pennyelesaian upacara di pura bersama dengan saa yang mengiringi. Urutan-urutan kegiatan itu ialah menyapu, membersihkan coblong, menggelar tikar, memetik daun, memasang caniga, membersihkan dan mengisi jun air. Menempatkan dupa di halaman palinggih, mempersembahkan dupa, mempersembahkan prayascita pada semua pelinggih, menyelesaikan segala sesuatu perlengkapan penyucian. Setelah urutan-urutan persiapan itu selesai, maka pamangku mohon perkenan Bhatara Siwa sudi hadir secara seksama pada diri pamangku itu. Pamangku mengucapkan saa pujian, mohon agar para Dewa/Bhatara menganugrahkan berkah, terhindar dari semua penderitaan. Dalam saa pujian itu terdapat mantra dewa-dewa dalam pengider-ider yang sesungguhnya semua dewa-dewa itu adalah ada Guru Dewa atau Bhatara Siwa. Kemudian Pamangku mempersembahkan semua banten piodalan, mulai dari Sanggar Agung, lanjut ke Padmasana, semua pelinggih, dan panggungan. Bagian akhir dari rangkaian upacara ini adalah persembahan kepada Bhatari Durga, Kala, Bhuta berupa bebangkit dan gelar sanga. Sebagai siddha ning don, tercapainya tujuan, pamangku mempersembahkan peras, dilanjutkan dengan masegeh agung, nglukar dan terakhir dengan matirtha.

 

  1. WRATI SASANA

Wrati sasana adalah sasana untuk seorang wrati, yaitu orang yang melaksanakan wrata atau brata yaitu janji dan realisasi hidup berdasarkan ajaran agama. Seorang warti menutut Wrati Sasana adalah seorang pandita, wiku. Ajaran wrata diuraikan melalui alur ajaran panca yama brata (ahimsa; tidak membunuh, brahmacarya; tidak kawin, satya;jujur, awyawaharika; tidak bertengkar, astainya; tidak mencuri) dan panca niyama brata (akrodha; tidak marah, gurususrusa; hormat pada guru, sauca; suci lahir bathin, aharalaghawa; tidak memakan sembarang makanan, apramada;tidak lalai).

Seorang wiku yang dapat melaksanakan ajaran yama niyama brata akan mendapat keteguhan hati dalam melaksanakan Wrati Sasana.

 

  1. WARIGA KRIMPING

Wariga krimping adalah wariga yang menyajikan padewasan yang disusun seperti kalender, yaitu menyusun hari berturut-turut dari Radite Sinta samapi dengan Saniscara Watugunung dengan wewaran-wewarannya. Pada intinya wariga ini adalah wariga pegangan masyarakat agraris karena padewasan yang disajikan adalah menyangkut kehidupan agraris. Seperti menanam tanaman, membuat perabot, memelihara hewan, berdagang, dsb., dan juga sedikit mengenai dewasa tentang kehidupan dalam keluarga, kehidupan sosial agraris.

ALIH AKSARA DAN TERJEMAHAN TUTUR RARE ANGON, TUTUR SIWA GURU, TANTU PANGGELARAN (2003)

 

  1. TUTUR RARE ANGON

Pemilik babon lontar ini adalah Ida I Dewa Gdhe Catra, Jero Kanginan Sidemen, Amlapura. Naskah ini tergolong naskah muda karena penyusun menggunakan kata-kata yang tidak lazim ditemukan dalam naskah-naskah Jawa Kuna, seperti katrangan (keterangan), maksud, dsb..

Secara garis besar isi dari naskah ini adalah menjelaskan tentang asal mula manusia. Asal mula manusia diawali dari pertemuan antara Rare Angon dengan Rare Cili. Dari pertemuan ini lahirlah benih kehidupan baru yang menjadi manusia. Dalam naskah ini juga diuraikan mengenai upacara mulai dari bayi dalam kandungan hingga upacara pada saat meninggal dunia.

 

  1. TUTUR SIWA GURU

Pemilik babon lontar ini adalah Pemangku Dhadya dari Prasi (I Gusti Ketut Mredhu Prasi) Karangasem. Secara garis besarnya, lontar ini menjelaskan tentang

    1. keberadaan Bhatara Siwa Guru sebagai asal mula dari segala makhluk hidup dan tujuan dari semua yang hidup ini.
    2. Menguraikan tentang pasuk wetu (keluar masuk Bhatara Siwa Guru) dari alam semesta ke dalam diri manusia, pasuk wetu bhuwana agung dan bhuwana alit.
    3. Menguraikan keberadaan Bhatara Siwa Guru sebagai penolak penyakit, penolak racun, penolak desti, pemberi amerta.
    4. Menguraikan tata cara meletakkan bija pada tiga tempat dan bhasma inti dari kesucian Bhatara Siwa guru juga bergelar Sang Hyang Jagatnatha, Sang Hyang Taya Agni.
    5. Menguraikan tentang Astaka Mantra yang harus diucapkan setiap hari, agar luput dari kematian, penghilang musuh, sikap beryoga mengucapkan mantra menghadap kesemua arah.

 

  1. TANTU PANGGELARAN

Diceritakan di Pulau Jawa pada jaman dahulu belum ada manusia. Kemudian Bhatara Jagatkarana menyuruh Sang Hyang Brahma dan Sang Wisnu untuk menciptakan manusia. Tanah dikepal-kepal dijadikan manusia yang tampan, sempurna seperti wajah dewata. Manusia laki adalah hasil karya Sang Hyang Brahma, sedangkan yang perempuan hasil karya Sang Hyang Wisnu. Itulah sebabnya di Pulau Jawa ada Gunung Pawinihan, tempat Sang Hyang Brahma dan Sang Hyang Wisnu menciptakan manusia.

Dipertemukanlah hasil ciptaan Sang Hyang Brahma dengan Sang Hyang Wisnu. Sangat serasi, saling berkasih-kasihan. Beranakcuculah mereka. Berkembanglah hasil karya manusia itu.

Mereka itu tanpa rumah, telanjang tinggal di hutan. Tidak ada yang membentuk tingkah lakunya, tidak ada yang ditirunya. Mereka tidak mengerti akan kata-katanya waktu berucap, tidak mengerti pula maksudnya. Oleh karena itu, Bhatara Jagatnatha memerintahkan para dewata membuat tertib hidup di Pulau Jawa.

Sang Hyang Brahma turun sebagai seorang pande besi. Empu Sujiwana namanya ketika menjadi seorang pande besi. Itulah sebabnya ada Gunung Brahma, tempat Sang Hyang Brahma menjadi pande besi.

Sang Hyang Wiswakarma menjadi seorang undagi, dan itulah sebabnya ada Desa Medang Kemulan, awal manusia membuat rumah dahulu. Sang Hyang Iswara menjadi seorang Guru Desa, yang mengajar manusia berkata, tahu bahasa, dan lain-lain. Sang Hyang Wisnu turun sebagai gurunya manusia dan memegang negara. Bhatara Wisnu turun bersama Bhatari Sri raja dari awang-awang. Bhatara Wisnu bernama Rahyang Kandyawan, sedangkan Bhatari Sri bernama Sang Kanyawan di Negara Mědang Gana. Itulah awal adanya negara dahulu, menurut ceritera.

Sang Hyang Mahadewa turun sebagai pande mas, yang membuat perhiasan manusia. Bhagawan Ciptagupta menjadi seorang pelukis dengan nama Empu Ciptangkara.

Tersebutlah yang mulia Bhatara Mahakarana telah membuat tertib hidup di Pulau Jawa. Diceritakan bahwa Pulau Jawa goyang dan selalu bergerak berayun-ayun. Karena itu Bhatara guru memerintahkan para dewa untuk memenggal Gunung Mahameru yang berada di Jambudwipa untuk dibawa ke Pulau Jawa sebagai pemberat. Dengan demikian Pulau Jawa pun menjadi stabil.

Naskah Lontar Tantu Pagelaran ini, pada intinya berisi tentang asal-usul manusia di Pulau Jawa, dan juga tentang asal-usul nama-nama tempat/gunung yang mulanya tempat Mpu atau Raja melakukan aktifitas tertentu.

 

 


LONTAR KAMOKSAN

KAJIAN TEKS DAN TERJEMAHAN (2001)

 

LONTAR KAMOKSAN

Lontar Kamoksan ini berisi tentang cara-cara untuk mencapai tujuan hidup dengan melalui praktek-praktek/pelaksanaan ajian-ajian (mantra). Berbagai ajian-ajian ditawarkan dalam naskah lontar ini, dan apabila seseorang tersebut mampu menerapkan ajian tersebut maka akan tercapai apa yang dikehendakinya, baik itu Kawisesan maupun Kamoksan. Ajian-ajian yang terdapat dalam naskah ini memiliki nilai kesakralan tinggi. Hakikat ajian tersebut bersifat sangat rahasia dan tidak semua bisa mempraktekkannya sehingga memerlukan kesigapan, ketelitian, ketekunan dan ketajaman batin pembacanya. Oleh karena itu perlulah kiranya pembaca bila ingin mempraktekkan ajian-ajian ini dituntun oleh seorang guru agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di dalam Lontar Kamoksan, ajian-ajian yang tergolong kawisesan antara lain Aji Sanghyang Wisesa, Aji Tutur Menget, Aji Palungguhan, Aji Pandawa, Aji Pagantungan Sih Pegating Tiga, Aji Palalangon, Aji Sanghyang Talaga Membeng, Aji Pagedongan, Aji Minaka Darma, Aji Sarira, Aji Wawadonan Titi Murti, Aji Sarining Kala Kalanangan, Aji Yata, Aji Pamuteran, Aji Sayu Rahina Sada, Aji Masun, Aji Wruhing Bapa Babu, Aji Tri Pamuteran, Aji Swakar, Aji Pamoran. Apabila seseorang mampu menerapkan ajian-ajian tersebut dengan baik dan benar, maka ia akan mempunyai banyak istri, menemukan kesukaan, kaya, berkuasa, mencapai sorga, ulung di medan perang, serta menjadi orang tampan.

Di dalam Lontar Kamoksan, ajian yang berhubungan dengan kamoksan antara lain Aji Kalepasan Ring Sarira, Aji Tuturira Sanghyang Kalepasan, Aji Wekasing Ujar, Aji Sanghyang Dharma, Aji Wekasing Aputih, Aji Dharma Kalepasan Kamoksan. Kamoksan atau Kalepasan mengacu pada makna terlepasnya Atma dari tubuh manusia untuk manunggal dengan Paramatma. Supaya Atma dengan mulus dapat melepas dari tubuh juga memerlukan pengetahuan spiritual khusus, baik dalam hal mengenal, mengetahui tanda-tanda, kapan waktu, maupun jalan yang akan ditempuh oleh Atma ketika melepas dari tubuh. Di dalam lontar Kamoksan, dijelaskan beberapa ajian atau ilmu tentang pelepasan Atma dari tubuh, antara lain Aji Pakekesing Pati, Aji Tengeraning Pati, Aji Wekasing Bhuwana, Aji Patyaning Tiga, Aji Patitisan, Aji Pakeker, Aji Pamancutan.

Di dalam Lontar Kamoksan dijelaskan bahwa moksa dapat dicapai melalui suatu tahapan spiritual, yang dimulai dengan memahami nama dewa, besarnya, warnanya, dan tempat bersemayam dewa tersebut. Dewa-dewa tersebut dikenali satu per satu secara bertahap, baik dalam posisi horisonta maupun vertical, sampai pada tataran tertinggi, yaitu “berada dalam diam”.

 

 

 

ALIH AKSARA DAN TERJEMAHAN

TUTUR GONG BESI, TUTUR LEBUR GANGSA, TUTUR ANGKUS PRANA (2002)

 

 

  1. TUTUR GONG BESI

Gong Besi adalah termasuk lontar tutur yang bersifat Siwaistik. Lontar ini tergolong muda karena kemungkinan besar ditulis di Bali. Pokok-pokok isi dari lontar ini lebih dari satu yaitu sebagai berikut:

 

    1. Bagian yang berisi Tutur Gong Besi

Tutur Gong Besi ini berisi tentang asal-usul Dalem Kawi. Bhatara Dalem patut dipuja dengan penuh bhakti. Untuk dapat memuja beliau secara tepat, maka terlebih dahulu harus diketahui nama-nama lain dari Beliau. Ketika Beliau berstana di Puseh, Sanghyang Triyodadasa Sakti nama Beliau, di Desa (Sanghyang Tri Upasedhana), di Bale Agung (Sanghyang Bhagawati), di Perempatan Jalan Raya (Sanghyang Catur Bhuwana), di Pertigaan (Sanghyang Sapuh Jagat), di Kuburan (Bhatara Durga), dll.

 

    1. Bagian yang berisi “Keputusan”

Berisi tentang Keputusan Sanghyang Wimbayagni. Keputusan ini diajarkan oleh Danghyang Dwijendra kepada Ida Manik Angkeran, dan terakhir kepada Bhatara Sakti di Manoaba. Ilmu ini bergunauntuk membakar racun dalam tubuh. Keputusan ini disebut juga Sanghyang Kutyagni. Pada bagian keputusan ini juga berisi Pangaradan Dewa atau disebut pula Pamatuh Ndewasraya. Ilmu ini berguna untuk menarik Dewa tertentu agar hadir memberikan anugrah.

 

    1. Bagian yang berisi ajaran Sanghyang Dharmatattwa

Bahwasanya manusia memiliki dua aspek yaitu aspek sakala (nyata) dan aspek niskala (tidak nyata), yang menyebabkan manusia mengalami dua hal yang berbeda seperti baik-buruk, tidur-terjaga, hidup-mati, kesemuanya disertai dengan upacara. Upacara untuk orang hidup disebut “Pradhana Sakala” dan untuk orang mati disebut “Pradhana Niskala”.

Pengetahuan tentang sakala dan niskala sangat perlu bagi seorang Resi dalam menyelesaikan upacara ngaben. Ia harus bisa menghadirkan atma orang yang diaben, maka itu ia harus mengetahui keluar masuknya tujuh atma dalam badan, sebab kalau tidak demikian akan percumalah upacara tersebut.

 

 

 

    1. Bagian yang mengandung ajaran wariga (Wariga Gemet)

Pada bagian ini disebutkan ada tiga tingkatan upacara yaitu ala, madhya, dan utama. Setiap upacara, apakah itu ala, madhya, dan utama tidak boleh lepas dari perhitungan hari baik yang harus dicari dalam Pncawara, Uku, Tanggal, dan Panglong dalam Wariga. Di sini juga diingatkan bahwa pada setiap akhir pelaksanaan yajnya agar nasi yang digunakan untuk menyucikan dewasa itu disantap oleh yang punya yajna beserta seluruh anggota keluarga karena akan berpahala kerahayuan dan kebahagiaan.

 

    1. Bagian yang berisi sederetan hari baik dan buruk

Hari baik atau buruk ditentukan berdasarkan perhitungan pertemuan antara Saptawara dengan Pancawara dan Uku. Hari tidak baik haruslah dihindari untuk melakukan suatu kegiatan atau upacara agama.

 

  1. TUTUR LEBUR GANGSA

Lebur Gangsa adalah lontar yang umurnya relative muda karena menggunakan bahasa Kawi-Bali. Pokok isinya ialah tentang durmanggala, yaitu tanda-tanda yang membawa bahaya dalam bentuk kejadian-kejadian yang aneh dan penangkalnya dalam bentuk saji, caru, serta mantra-mantra yang mengirinya. Beberapa durmagala itu ialah:

 

a. Kageni bhaya, yaitu bila ada kebakaran di dalam pekarangan. Bila ada kejadian demikian maka harus membuat Palinggih INdra Balaka berbentuk Padma.

b. Bila karang panes meliputi wilayah yang luas seperti wilayah pemukiman, pertanian, tempat pemujaan, hendaknya membuat Palinggih Antasana, tempat Sang Hyang Tiga Wisesa yaitu Sang Hyang Indra Bhalaka, Sang Hyang Durgamaya, dan Sang Hyang Kalamaya. Bila tidak dibuatkan palinggih maka ia akan menyakiti orang dengan berbagai penyakit, baik penyakit jasmani maupun penyakit jiwa.

c. Jenis-jenis karang panes yang lain ialah:

· Kapanca bhaya : seperti adanya pohon kayu tumbang tanpa sebab yang jelas

· Karipu bhaya: seperti rumah ditimpa pohon kayu

· Kalebon amuk: seperti rumah roboh, pohon kayu tumbang, orang mati karena jatuh

· Kalulut bhaya: bila ada lulut

· Karaja bhaya: bila ada darah di pekarangan atau rumah

· Ragabhaya: bila ada orang menusuk diri

 

· Karare bhaya: bila ada orang yang meninggal karena melahirkan

· Katoyabhaya: bila ada orang meninggal dihanyutkan air

· Salah pati: seperti orang mati ditusuk, ditembak, dsb.

· Darati karma, agamya gamana: yaitu bila ada orang memperkosa istri orang

· Rumah tumbak rurung

· Ragasesa: yaitu menambah atau mengurangi rumah yang sudah selesai

 

Untuk menanggal durmanggala-durmanggala itu orang hendaknya membuat caru, seperti caru bhuta carik, caru nawa gampang, caru asu bang bungkem, dll.

 

  1. TUTUR ANGKUS PRANA

Secara garis besarnya, isi dari lontar ini dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu Kawisesan dan Kamoksan. Kawisesan berhubungan dengan sakti yang erat hubungannya dengan hidup keduniawian. Sedangkan Kamoksan berhubungan dengan pembebasan terakhir dan harapan hidup bahagia di sorga.

Isi yang mengandung ajaran Kawisesan tersimpul dalam berbagai ilmu yang disebut dengan Tutur, yaitu: Tutur Pranajati, Tutur Jati Ening, Sanghyang Aji Lwih, Tutur Samuccaya, Tutur Jagatnatha dan Jagat Guru, Tutur Upadesa, Pangelepasan Tedung Jati (Aji Pawasan), Tutur Yoga Meneng, Tutur Bhagawan Kasyapa, Tutur Kawakyan. Sedangkan isi yang mengandung ajaran Kamoksan tampak pada Aji Pangelepasan Siwi (Siwer) Mas.

Kedua ilmu itu, meskipun terlihat berbeda namun sesungguhnya berhubungan erat, dan kawisesan itu penting untuk melakoni kamoksan. Keberhasilan seseorang dalam mempelajari ilmu ini sangat ditentukan oleh beberapa hal seperti: tidak mempunyai dosa besar, dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk mempelajari ilmu itu, dapat memusatkan pikiran dan tidak berkata-kata, dan ada berkat dari Widhi (Tuhan). Ilmu ini memiliki manfaat/kegunaan yang luar biasa dalam kehidupan ini utamanya bagi yang menekuninya seperti: dapat memperpanjang usia, untuk membersihkan diri, untuk menumbuhkan sifat-sifat baik, untuk membebaskan leluhur dan keluarga dari neraka, untuk mendapatkan cinta wanita, untuk kesidian balian, untuk memperoleh kebahagiaan sorgawi setelah meninggal dan duniawi setelah lahir kembali, dan lain-lain.

Oleh karena demikian hebatnya ilmu ini, maka dianjurkan agar dalam mempelajari ilmu ini tidak boleh menyombongkan diri karena ilmu itu banyak disembunyikan oleh Dewa, dan agar selektif dalam mengajarkan apalagi terhadap orang lain karena belum tentu sama pikirannya.

 

 

 

 

 

KAJIAN NASKAH LONTAR BUBUKSAH (2002)

 

 

LONTAR BUBUKSAH

Naskah lontar ini mengisahkan tentang kehidupan dua bersaudara, Kebo Mili dan adiknya Kebo Ngraweg. Mereka berdua senang menekuni ajaran kebenaran, tidak suka kepada hal-hal keindahan keduniawian, sehingga mereka memutuskan untuk mencari seorang guru dan selanjutnya ingin menjalani kehidupan layaknya seorang pendeta.

Mereka lalu menuju ke Pertapaan Mandhalangu atas petunjuk Ulukembang, seorang siswa dari pertapaan tersebut. Di sana, mereka akhirnya diterima untuk menjadi muridnya. Keduanya lalu diganti namanya, Kebo Mili menjadi Gagakaking dan Kebo Ngraweg menjadi Bubhuksah.

Setelah dirasa cukup dalam menuntut ilmu, keduanya lalu memutuskan untuk pergi bertapa ke sebuah gunung. Gagakaking mengambil tempat di sebelah Barat menghadap ke Timur, sedangkan adiknya, Bubhuksah mengambil tempat di sebelah Timur menghadap ke Barat. Dalam hidupnya, kedua kakak beradik ini mengambil jalan yang berbeda. Gagakaking menjalankan tapanya dengan memakan makanan yang tidak bernyawa, sedangkan Bubhuksah menjalankan tapanya dengan cara bherawa, yakni memakan makanan yang bernyawa termasuk binatang-binatang yang paling menjijikkan sekalipun.

Perbedaan cara hidup ini menyebabkan Gagakaking gelisah dan diyakini apa yang dilakukan oleh Bubhuksah telah melanggar cara seorang pertapa. Berkali-kali Gagakaking menasihatinya namun tidak berhasil. Bubhuksah meyakini bahwa banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai alam sorga. Jiwa itu adalah tunggal, dan bersama tapanya itu berharap jiwa itu segera menyatu kembali ke asalnya.

Di lain pihak diceritakan bahwa Dewa Indra melapor kepada Dewa Siwa (Bhatara Guru) bahwa ada dua orang pertapa yang sama-sama sakti ingin berebut sorga. Dewa Siwa lalu mengutus Kala Wijaya untuk menyamar sebagai harimau putih untuk menguji mereka. Siapa salah satu dari mereka yang tyaga pati, maka dialah yang berhak masuk sorga.

Dalam melakukan pengujiannya, harimau putih lebih dahulu mendatangi Gagakaking dan mengatakan ingin memakannya. Gagakaking tidak mau dimangsa oleh harimau itu, bahkan ia menyuruh harimau putih itu untuk mendatangi Bubhuksah. Harimau itu lalu mendatangi Bubhuksah, dan Bubhuksah pun menyerahkan dirinya untuk segera dimangsa.

Bubhuksah ternyata tyaga pati. Harimau putih pun segera menjelaskan bahwa dirinya adalah utusan Dewa Siwa untuk mengujinya. Bubhuksah lalu diajak ke sorga untuk menemui Dewa Siwa. Oleh karena Bubhhuksah dan Gagakaking sebelumnya sudah berjanji seia sekata, baik suka maupun duka, maka Gagakaking pun diikutkan ke sorga. Bubhuksah duduk di punggung harimau sedangkan Gagakaking bergelantungan memegang ekor harimau.

Setibanya di sorga, mereka diberi tempatnya masing-masing sesuai dengan tapanya. Oleh karena Bubhuksah tyaga pati, maka ia berhak mendapatkan sorga yang terbaik dan tertinggi (sorga ketujuh). Sedangkan Gagakaking diberikan sorga tingkat kelima, lengkap dengan abdinya sebagai pahala atas tapanya yang juga sangat welas asih terhadap semua makhluk.


ASTA KOSALA KOSALI, ASTA BHUMI, EKA PRATHAMA, DHARMA KAHURIPAN (2007)

 

  1. ASTA KOSALA KOSALI

Naskah Lontar Asta Kosala Kosali ini adalah lontar yang menguraikan tentang seseorang yang menekuni bidang ketrampilan pertukangan, seperti tata aturan membuat bangunan adat Bali beserta upacaranya. Isi dari naskah ini hendaknya diketahui oleh orang yang hendak membangun balai. Janganlah lalai, jangan sampai tertukar ukurannya, pastikan lebih kurangnya, luar dalamnya, baik buruknya, semua harus diperhatikan dan jangan sampai menyimpang. Jika hal tersebut diabaikan maka akan berakibat terhadap orang yang tinggal di dalamnya.

 

  1. ASTA BHUMI

Astha Bhumi adalah sebuah lontar yang merupakan gegelaran atau pedoman seorang Undagi, yaitu seseorang yang tahu dan paham tentang tata letak dan ukuran matrik bangunan adat Bali. Rumah tinggal adat Bali dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu: (1) kelompok bangunan Parhyangan yaitu: Pura, Sanggar, Pamerajan, sebagai tempat suci, (2) kelompok bangunan Pawongan yaitu: Bale Meten (Daja), Bale Gede (Dangin), Bale Loji (Dauh), yaitu yang berfungsi sebagai tempat tidur atau kegiatan sehari-hari, (3) kelompok bangunan Palemahan yaitu: Pawon (dapur), Jineng (tempat menyimpan padi) dan bangunan pelengkap yang lain, sebagai tempat pelayanan.

Tata letak bangunan adat Bali sudah diatur sedemikian rupa mulai dari pemilihan tempat, arah, pondasi, demikian juga konstruksi bangunan hendaknya sesuai dengan sikut atau gegulak, yang memakai ukuran matrik dari orang yang mempergunakan bangunan itu, tidak boleh memakai ukuran matrik orang lain.

 

  1. EKA PRATHAMA

Lontar Eka Prathama termasuk lontar yajña, lebih mengkhusus dapat dikelompokkan ke dalam lontar Manusa Yajña, karena dari segi isinya secara keseluruhan menguraikan tentang tata upacara Manusa Yajña dari upacara bayi baru lahir sampai dengan upacara perkawinan.

Ketika si bayi baru lahir, dibuatkan upacara yang dapat diselenggarakan secara nista, madia, atau utama. Dilanjutkan dengan upacara ketika kepus puser, upacara setelah bayi berumur 12 hari, 42 hari, dan 6 bulan. Ketika berumur enam bulan, si bayi mulai dapat diturunkan ke tanah. Pada saat si bayi mulai tumbuh gigi atau nanti setelah giginya tanggal, juga ada upacaranya (persembahan sesajen).

Ketika mulai meningkat remaja dibuatkan suatu upacara yang disebut Upacara Pujakalib. Pada tingkatan selanjutnya adalah upacara potong gigi, dan terakhir diuraikan adalah tentang upacara perkawinan.

 

 

  1. DHARMA KAHURIPAN

Dharma Kahuripan merupakan lontar yang bersifat tutur yang pada pokoknya menguraikan tentang upacara manusa yadnya yaitu upacara dari manusia itu lahir ke dunia hingga meninggal dunia.

Saat istri baru hamil dan melewati Tumpek Wayang, maka istri hendaknya dibuatkan upacara pamrayascita (ruwatan) yang dilakukan oleh seorang pendeta. Setelah usia kehamilan memasuki enam bulan maka dibuatkan upacara pagedong-gedongan, serta sepuluh hari menjelang bayi lahir dibuatkan upacara padengenan. Setelah lahir dibuatkan upacara dapetan dan penanaman ari-ari dengan sarana dan penulisan aksara. Setelah bayi telah kepus udel juga dibuatkan upacara. Setelah berumur 42 hari dibuatkan upacara pacolongan atau tutug kambuhan. Setelah 210 hari diupacarai dengan upacara otonan, dstnya.

 


TUTUR BUDDHA SAWENANG (1999)

(Alih Aksara dan Alih Bahasa)

 

TUTUR BUDDHA SAWENANG

Buddha Sawenang merupakan sebuah lontar tattwa yang membicarakan tentang ajaran Buddha. Lontar ini tergolong lontar yang cukup tua karena bahasa yang digunakan yaitu perpaduan antara bahasa Sansekerta dengan bahasa Jawa Kuna.

Penyajian ajaran Buddha dalam lontar ini disajikan dalam bentuk dialog antar seorang guru spiritual dalam hal ini Sang Buddha Sawenang dengan keempat muridnya yaitu Sang Buddha Paksa, Sang Buddha Gotama, Sang Buddha Mahayana, dan Sang Buddha Tulen. Dialog itu berkisar pada bagaimana caranya agar seseorang menjadi sempurna, sehingga ia terbebas dari lingkaran punarbhawa dan mengetahui hakekat kebenaran yang sejati atau kebenaran yang sunyi (kosong). Menurut Sang Buddha Sawenang, kebenaran yang sunyi sangat sulit dicapai, walaupun dengan jalan keberanian, kebenaran, kemasyuran, tapa, brata, yoga, semadi, japa mantra, kedamaian pikiran, atau Weda sekalipun. Hal ini disebabkan karena setiap orang tidak bisa luput dari apa yang disebut dengan Sad Wariga; branta (bingung), lapa (lapar), lara (sakit), lupa (lupa), turu (tidur), dan pati (mati), yang dipengaruhi oleh Sad Guna; mata, hidung, mulut, telinga, anus, dan kemaluan. Begitu juga orang tidak akan luput dari Sad Ripu; satru (musuh), rare (anak-anak), artha (kekayaan), punyah (mabuk), kanya (remaja), dan buduh (gila), termasuk Sad Atatayi; linyok (ingkar), ngupaya (memperdaya), amandung (mencuri), pracacad (mencela), misuna (memfitnah), dan mahuk (berbohong). Demikian juga manusia sangat sulit melepaskan diri dari pengaruh Sad Rasa: pahit, masam, pedas, amis, dan hambar. Inilah yang menyebabkan manusia sulit mencapai kebenaran yang kosong.

Dengan selesainya Beliau menyampaikan berbagai ajaran ke-Buddha-an terutama mengenai hakekat “kebenaran sunyi (kosong)” itu, keempat siswanya lalu diwisuda dan selanjutnya mencari jalan masing-masing untuk menyebarkan ajaran Buddha. Sang Buddha Paksa pergi ke arah Timur untuk menyebarkan ajaran Buddha Tattwa; Sang Buddha Gotama pergi ke arah Barat untuk menyebarkan ajaran Buddha Gotama; Sang Budha Mahayana pergi ke arah Selatan untuk menyebarkan ajaran Tattwa Buddha Berawa.

Lontar Tutur Buddha Sawenang, selain membicarakan tentang pendalaman ajaran Buddha juga menguraikan tentang ajaran Siwa dan hubungannya dengan ajaran Buddha. Di sini tampak ajaran Buddha mengungguli kemampuan ajaran Siwa, yang dilukiskan dengan kalahnya Sang Hyang Siwadharma dalam adu kadigjayan.

 

 


UTTARA KANDA

TEKS AKSARA BALI, LATIN DAN TERJEMAHAN (2007)

 

 

LONTAR UTTARA KANDA

Uttara kanda merupakan bagian (kanda) terakhir dari tujuh kanda yang adadalam epos Ramayana gubahan Walmiki. Secara garis besar, Uttara kanda berisi cerita Rama dan Sita setelah berakhirnya perang antara Rama melawan Rahwana, termasuk di dalamnya cerita lahirnya putra Rama, Kusa dan Lawa.

Setelah Rama berhasil mengalahkan Rahwana, Rama banyak menerima saran agar kesucian Sita diuji mengingat terlalu lama berada di tangan Rahwana. Upacara pun dilakukan guna membuktikan kesucian Sita. Zdalam upacara yang dilakukan untuk menguji kesetiaan Sita, Tuhan benar-benar memperlihatkan kebesarannya, sehingga Sita pun akhirnya kembali diterima oleh Rama.


KAJIAN NASKAH LONTAR SIWAGAMA (2002)

 

LONTAR SIWAGAMA

Siwagama merupakan teks yang tergolong jenis tutur yang juga disebut Purwagamasasana. Siwagama merupakan salah satu karya Ida Padanda Made Sidemen dari Geria Delod Pasar, Intaran, Sanur. Karya ini diciptakan pada tahun 1938, konon atas permintaan raja Badung.

Pengarang memulai teksnya dengan menyebutkan bahwa kisah cerita diawali dengan perbincangan raja Pranaraga dengan pendeta istana (Bagawan Asmaranatha) tentang tattwa mahasunya. Agama Hindu sesungguhnya menganut paham monotheisme bukan politheisme. Tuhan hanya satu tidak ada duanya, namun orang bijaksana menyebut-Nya dengan banyak nama. Berbagai sebutan Tuhan muncul dalam agama Hindu karena Tuhan tidak terbatas adanya. Akan tetapi, kemampuan manusia untuk menggambarkan hakikat Tuhan sangat terbatas adanya. Di dalam teks Siwagama disinggung berbagai sebutan Tuhan, seperti Sanghyang Widhi, Sanghyang Adisuksma, Sanghyang Titah, Sanghyang Anarawang, Sanghyang Licin, Sang Acintya, dll.

Disamping kepercayaan kepada Sanghyang Widhi, pengarang juga menegaskan kepercayaan adanya roh leluhur. Dalam hal ini, manusia diajak untuk berbakti kepada leluhur. Sebab pada hakikatnya antara atma dan dewa itu tunggal, sebab semua makhluk berasal dari Sanghyang Widhi. Kepercayaan adanya karmaphala juga dijelaskan pengarang dalam teks Siwagama. Tidak ada suatu perbuatan yang sia-sia, semua perbuatan akan membuahkan hasil, disadari atau tidak. Selain itu disinggung juga mengenai kepercayaan akan adanya samsara dan moksa. Hal ini dikaitkan dengan pahala-pahala yang ditemukan bagi orang-orang yang senantiasa rajin membaca, mendengarkan, dan mendiskusikan ajaran-ajaran teks suci, seperti Astadasaparwa, Itihasa, dan Purana-Purana. Konon sebagai pahala membaca, mendengarkan, dan mendiskusikan teks-teks suci tersebut, selama hidupnya manusia dapat mencapai ketenangan pikiran, melenyapkan niat-niat jahat, kotoran diri, noda, dan dosa, serta ketika ajal tiba akan menemukan sorga dan moksa.

Di dalam teks Siwagama juga banyak didapatkan kutukan-kutukan yang menimpa sejumlah tokoh akibat perbuatan-perbuatan yang dilakukannya. Sebagaimana dikisahkan, Bhatari Uma dikutuk menjadi Durga sebagai pahala atas perbuatan serongnya dengan Si Pengembala, Dyah Mayakresna (putri Bhatara Guru) dikutuk menjadi Kalika sebagai pahala atas kejahatannya membunuh suami-suaminya. Sang Sucitra dan Sang Susena (Raja Gandarwa) menerima kutukan dari Bhatara Guru menjadi Sang Kalantaka dan Sang Kalanjaya sebagai pahala perbuatan jahatnya memperkosa Sang Batringsa dan Sriyogini (juru bunga Bhatara Guru). Ada pula tokoh-tokoh yang dikisahkan mendapat pahala baik akibat perbuatan baik yang dilakukan. Seperti Sang Kumara dinobatkan menjadi Sang Wredhakumara atas kemuliaan yoganya. Demikian pula pada dewa-dewa lainnya, seperti Bhatara Surya yang diberi gelar Siwaraditya oleh Bhatara Guru sebagai pahala atas ketekunannya menjadi saksi dunia dan atas kepatuhannya kepada Bhatara Guru.

KAJIAN NASKAH LONTAR SIWAGAMA 2 (2005)

 

LONTAR SIWAGAMA 2

 

Lontar ini pada intinya menyajikan tentang ajaran Siwa Buddha. Kemuliaan ajaran Budha dan ajaran Siwa itu adalah tunggal.

Dikisahkan Sang Kunjarakarna, putra raja Dumbajaya, bertahta di negeri Pandhi. Laku tapanya sangat hebat, memuja Sanghyang Werocana. Ia telah diberikan anugrah dan berganti nama menjadi Bhagawan Handasingha. Ia menjadi pertapa telanjang, dan membangun asrama di tengah hutan. Ia mampu pulang ke alam gaib, dan ia belajar sendiri tentang ajaran Budha. Di lain pihak diceritakan mengenai Sri Purnawijaya, putra raja Utarsa, sebagai sepupu Sang Kunjarakarna bertahta di Negeri Narajadesa atau dinamakan Kerajaan Kendran bergelar Sri Nilacandra. Dinamakan kerajaan Kendran karena Raja Nilacandra mampu membuat tiruan Kendran (sorga) dan tiruan Yamaloka (neraka), termasuk tiruan matahari dan bulan, dan telah diberkati oleh Raja Hastina atas kesempurnaan kerajaannya itu.

Diceritakan bahwa Istana Kendran telah dirasa sempurna. Sehubungan dengan itu, maka sang raja berniat mangadakan upacara selamatan untuk istana emasnya itu dengan mengundang raja Hastina. Raja Yudistira datang bersama keempat saudaranya beserta para permaisurinya. Mereka berlima (Pandawa Lima) bagaikan Sanghyang Panca Tatagata bersama kedelapan dewinya, ibarat mereka berada di alam Dewa Budha. Pada saat itu Raja Yudistira berpesan kepada Raja Nilacandra: “Wahai kau Raja Nilacandra, dan para menterimu sekalian, kuatkanlah imanmu dalam melakoni ajaran Budha, sebab puncak keberhasilan laku tapamu akan mengantarkan dirimu mengetahui sorga dan neraka. Betapa sejuknya hati orang-orang di seluruh wilayah Negeri Narajadesa sebagai tonggak awal menjaga kehidupan, memegang teguh ajaran Budha, menciptakan keselamatan dunia....”.

Diceritakan dua orang raja besar bernama Maharaja Kresna dan Maharaja Baladewa mendengar berita kehebatan Raja Nilacandra yang gagah berani, yang telah menguasai sorga dan neraka serta telah membuat sorga dan neraka tiruan di dalam istananya atas anugrah Sanghyang Werocana dari utusan mereka yang bernama Sang Satyaki dan Sang Kretawarma. Maharaja Kresna dan Maharaja Baladewa marah, merasa bagaikan ditantang keperkasaannya oleh Raja Nilacandra. Dengan cepat Maharaja Kresna dan Maharaja Baladewa merapatkan pasukan Yadu dan Wresnyandaka, serta kedua pamannya termasuk perdana menteri, panglima perang agar segera angkat senjata. Maharaja Kresna dan Maharaja Baladewa mendahului perjalanan mereka dengan mengendarai kereta emas permata, dengan kuda sangat sakti, Swalahaka, berwarna hitam. Dalam sekejap mereka telah tiba di Kerajaan Hastina untuk menemui Raja Yudistira. Maharaja Kresna menjelaskan maksud kedatangannya ke sana adalah untuk menyampaikan bahwa mereka akan menyerang Raja Nilacandra oleh karena ia bisa membuat tiruan Indraloka dan Pitreloka sebagai tanda keberhasilannya dalam menekuni ajaran Budha, dan Maharaja Kresna hendak mengetahui kehebatan ilmu Raja Nilacandra dalam mendalami ajaran Budha. Raja Yudistira tidak sepaham dengan penjelasan Maharaja Kresna, dan Beliau lalu menjelaskan bahwa tujuan Raja Nilacandra dalam meniru sorga dan neraka adalah untuk mengajarkan manusia di dunia ini kepada kesadaran yang sesungguhnya, yakni sebagai penahan bagi orang-orang bodoh di Negeri Narajedesa, untuk mencegah pikiran orang-orang dalam melakukan kejahatan.

Maharaja Kresna dan Maharaja Baladewa tidak terima dengan penjelasan dari Raja Yudistira. Mereka lalu bergegas pergi dibuntuti oleh keempat Pandawa bersaudara yang penasaran ingin mengetahui kesaktian Sang Nilacandra. Diceritakan peperangan telah terjadi. Pesan Raja Nilacandra kepada pasukannya adalah “Janganlah kalian takut mati. Aku menjadi jaminan atas kematianmu. Bukankah kau mengetahui diriku bahwa aku tidak bisa mati oleh senjata. Aku mampu menghidupkan orang yang telah mati, sebab aku mempunyai senjata Sanghyang Puspawijaya, anugrah Sanghyang Werocana”.

Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Keempat Pandawa pun telah tewas. Maharaja Yudistira yang mengetahui bahwa keempat saudaranya telah tewas menjadi marah. Sifat ksatrianya mekar, ia memusatkan batin pada kekuatan senjata pustakanya yang dinamakan Sanghyang Kalimosada dengan merapalkan mantra dan aksara sucinya, untuk disemayamkan, dihadirkan agar meresit dalam dirinya. Dalam sekejap ia berubah menjadi Kalagni berkobar-kobar memenuhi medan perang.

Raja Nilacandra yang melihat hal tersebut juga menjadi marah. Matanya diselimuti kekuatan panah mahan, sehingga muncul nafsu merajai. Dengan cepat ia mengambil senjata gadanya yang tajam, dan maju membidik. Tiba-tiba Sanghyang Werocana Turun, berdiri di pangkal tangkai bunga teratai, lengkap dengan senjata bajranya. Bagawan Handasingha juga turun, menasihati adiknya Sang Nilacandra.

Katanya: “Wahai adikku Raja Narajadesa, kali ini ulahmu menyimpang, kau berani durhaka kepada raja Hastina, pastilah kekuatan tapamu dulu itu akan tenggelam. Pada saat kematianmu, kau akan ditenggelamkan di kawah neraka Tambragomuka karena kau dikutuk oleh ayahmu , yang telah menjadi dewa. Kaulah yang memunahkan kekuatan laku tapa ayahmu, yang dulu diangkat menjadi Perdana Menteri oleh raja Pandu dulu. Karena kau adalah abdi Raja Yudistira, maka kau akan terkena kutukan pada saat kematianmu, sebagai abdi Bhatara Dharma, sebab Bhatara Dharma menjelma di dalam tubuh Raja Yudistira, mati tanpa meninggalkan jasad, dan lagi Raja Kresna adalah penjelmaan Wisnu sejati, yang bertugas menyelamatkan dunia. Jika Raja Kresna dan Yudistira dibunuh di medan perang, sekalipun kau berhasil melakukannya berkat anugrah Sanghyang Werocana kepadamu, maka dunia ini akan lenyap berubah menjadi lautan luas. Bhatara Guru akan marah kepadamu. Adapun sekarang, sifat keras kepala Raja Kresna kepada dirimu, tanpa ada dosa, ia datang menyerang dirimu, sebab ia belum percaya kepada keimananmu sebagai penganut ajaran Budha, yang sudah ada di dalam dirinya, sebagai tempat bersemayam Sanghyang Werocana.”

Raja Nilacandra memusatkan batin memuja kehadapan Sanghyang Werocana, menyembah kepada Bhagawan Handasingha, kepada Raja Yudistira, memohon maaf atas kesalahannya, sambil meneteskan air mata. Raja Yudistira masih tetap marah, dengan sekuat tenaga menghujani Raja Nilacandra dengan senjata panah ampuh, namun semua senjata itu tidak mempan sama sekali, sehingga raja Yudistira pun menjadi semakin marah, dan terus menyerang Raja Nilacandra. Akan tetapi Raja Nilacandra tetap bersujud menyembah, tiada melakukan perlawanan. Akhirnya Raja Yudistira pun turun tergopoh-gopoh, mengelus-elus kepala Raja Nilacandra sambil berkata manis: “Berbahagialah kau anakku, kau telah mampu menaklukkan kebajikanku, tenangkanlah pikiranmu! Kau telah berhasil menguasai ajaran kesucian, sebagai saranaku dan dirimu pulang ke sorga nanti. Janganlah kau salah paham kepadaku, sebab orang sangat sulit menemukan keselamatan di dunia selama-lamanya, dirasuki oleh nafsu dan ketamakan, merintangi kebenaran dan kesetiaannya di dunia.

Raja Nilacandra lalu menyembah, memohon maaf. Ia memohon keris Raja Yudistira untuk dipakai menebas kepalanya. Raja Yudistira berkenan, lalu menghunus keris pusaka candrahasa. Keris itu diterima oleh Raja Nilacandra, kemudian kepalanya ditebas jasadnya ditidurkan di dalam kereta.

Puspakomala dilihat oleh Raja Yusdistira di dalam asta galaka, lalu puspakomala itu dicabutnya. Dipikir-pikir olehnya, ternyata kemuliaan ajaran Budha dan ajaran Siwa itu tunggal. Panca Tatagatanya sama dengan Panca Siwanya. Ia berwujud Budha, Ia berwujud Siwa. Bersatunya hakikat bayu dan sabda sebagaimana penunggalan perasaan dan penglihatan, sama-sama bisa saling merasuki, sebagai murid Bhatara Sadasiwa, digoreskan di dalam ketiadaan yang sangat rahasia, kelepasannya tunggal, yakni Sanghyang Adwaya dengan Adwayajnana. Puspakomala yang dipegang oleh Raja Yudistira kemudian dirampas oleh Raja Kresna, digunakan untuk menghidupkan kembali semua pasukannya yang telah mati di medan perang termasuk keempat Pandawa.

Demikianlah keutamaan Sanghyang Puspakomala, yang keluar dari puncak kepala Sang Nilacandra, dapat dipakai menghidupkan orang mati, jika belum saatnya mati. Puspakomala itu kemudian dikembalikan lagi kepada Raja Yudistira. Raja Yudistira kemudian beryoga memuja kekuatan air kehidupan Sanjiwani, menyemayamkan kembali puspakomala Sang Nilacandra, dikembalikan ke tempatnya semula. Sang Nilacandra pun terjaga, hidup kembali.


WRHASPATI TATWA, GANAPATI TATWA, TATWA JNANA

Kajian Teks dan Terjemahannya (1994)

 

  1. WRHASPATI TATWA

Wrhaspati Tatwa adalah lontar yang tergolong tua. Lontar ini menggunakan bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa Kuna. Bahasa Sansekertanya disusun dalam bentuk sloka, dan bahasa Jawa Kunanya disusun dalam bentuk bebas (gancaran) sebagai penjelasan/terjemahan bahasa Sansekertanya. Lontar ini menguraikan ajaran tentang kebenaran tertinggi yang bersifat Siwaistik. Wrhaspati Tatwa berisi dialog antara seorang guru spiritual yaitu Sanghyang Iswara dengan seorang sisia (siswa) spiritual yaitu Bhagawan Wrhaspati. Di dalam Wrhaspati Tatwa disebutkan Hyang Iswara berstana di puncak Gunung Kailasa yaitu sebuah puncak di Gunung Himalaya yan dianggap suci. Sedangkan Bhagawan Wrhaspati adalah orang suci yang merupakan guru dunia (guru loka) yang berkedudukan di sorga. Dalam dialog itu, Sanghyang Iswara mencoba menjelaskan kebenaran tertinggi tentang Siwa kepada Bhagawan Wrhaspati.

Kenyataan tertinggi itu ada dua yaitu Cetana (unsur kesadaran) dan Acetana (unsur ketidaksadaran). Kedua unsur ini bersifat halus dan menjadi sumber segala yang ada. Cetana itu ada tiga jenisnya yaitu Paramasiwa Tatwa, Sadasiwa Tatwa, dan Siwa Tatwa yang disebut Cetana Telu. Ketiganya tidak lain adalah Sanghyang Widhi sendiri yang berbeda tingkat kesadarannya. Dibedakannya cetana itu menjadi tiga didasarkan atas tingkat kesadaran yang dimiliki oleh masing-masing cetana. Paramasiwa memiliki tingkat kesadaran tertinggi, Sadasiwa menengah, dan Siwa rendah. Tinggi rendahnya tingkat kesadaran itu tergantung dari kuat tidaknya pengaruh Maya. Paramasiwa adalah bebas dari pengaruh Maya, Sadasiwa mendapat pengaruh sedang-sedang saja, sedangkan Siwa mendapat pengaruh Maya paling kuat.

Lontar Wrhaspati Tatwa juga mengajarkan jalan lain untuk mencapai Sanghyang Widhi (Sanghyang Wisesa) yaitu dengan selalu memusatkan pikiran pada Dia (Yoga) melalui enam tahapannya yang disebut Sadanggayoga. Yoga didasari dan dibangun oleh Dasasila.

 

 

  1. GANAPATI TATWA

Ganapati Tatwa adalah salah satu lontar tatwa, lontar filsafat Siwa, yang digubah dengan mempergunakan metode tanya jawab. Tanya jawab ditulis di dalam 37 lembar daun tal yang disusun dalam 60 bait, menggunakan bahasa Sansekerta yang disertai dengan ulasan dalam bahasa Kawi.

Ganapati (putra Siwa) adalah dewa penanya yang cerdas, dan Siwa adalah Maheswara, yang menjabarkan ajaran Rahasia Jnana, menjelaskan tentang misteri alam semesta beserta isinya. Terutama tentang hakikat manusia; dari mana ia dilahirkan, untuk apa ia lahir, kemana ia akan kembali dan bagaimana caranya agar bisa mencapai kelepasan.

 

 

  1. TATWA JNANA

Tatwa Jnana adalah pengetahuan tentang tatwa. Tatwa ini dimulai dengan cetana yang sadar, dan acetana yaitu yang tidak sadar. Cetana adalah Siwatattwa, sedangkan Acetana adalah Mayatattwa.

Siwatattwa terdiri atas Paramasiwatattwa, Sadasiwatattwa, dan Atmikatattwa. Paramasiwatattwa adalah Bhatara Siwa yang niskala, Tuhan yang serba tidak; tidak terikat oleh ruang dan waktu, memenuhi alam semesta. Sadasiwatattwa adalah Bhatara Siwa yang wyapara (aktif), memiliki aktifitas serba tahu, serba kerja. Bhatara Sadasiwalah bergelar Bhatara Adipramana, Bhatara Jagatnatha, Bhatara Guru, dan sebagainya. Atmikatattwa adalah Bhatara Sadasiwatattwa yang mempunyai sifat utaprota. Uta (terjalin dalam, tenunan) ialah Bhatara Sadasiwa yang menyusupi mayatattwa. Prota (terangkat dalam tenunan) ialah Bhatara Sadasiwa yang memenuhi mayatattwa, melekat dan diliputi oleh mayatattwa itu, sehingga tidak tampak wujud yang sebenarnya. Sebagai Atmikatattwa, Bhatara Siwa adalah Sanghyang Atmawisesa, Sanghyang Dharma.

Anak mayatattwa adalah pradhanatattwa yang mempunyai sifat-sifat lupa yang berlainan dengan sifat Sanghyang Atma yaitu sadar. Bila sifat sadar bertemu dengan sifat lupa, maka hal itu disebut pradhana-purusa yang melahirkan citta dan guna. Citta adalah bentuk kasarnya purusa, sedangkan guna adalah penjelmaan pradhanatattwa. Ada tiga guna yaitu sattwa, rajah, dan tamah. Tri guna ini menentukan akan mendapatkan apa atma itu, apakah kamoksan, swarga atau lahir menjadi manusia.


BUANA KOSA

ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA (1991)

 

 

LONTAR BUANA KOSA

 

Lontar Buana Kosa atau Jnana Sidanta pada intinya berisi tentang asal manusia dan cara serta tujuan hidup yang sejahtera lahir-bathin. Menurut lontar Buana Kosa, kita harus tahu bekal yang dianugrahkan Sang Hyang Widhi dalam tubuh kita (Buana Alit). Pertama-tama hati yang disebut Padma Hredaya yaitu Panca Warna stana Hyang Siwa, yang tidak terkena malapetaka, karena Beliau tahu Panca Pamarisudha. Semuanya itu sudah ada pada diri (tubuh) kita yaitu hati. Kalau hati sudah bersih, kita akan tahu yang menyebabkan sebagai pokok kita hidup di dunia ini.

Menurut lontar ini, manusia terdiri dari lima unsur yang disebut Panca Maha Butha. Kemudian untuk dapat bergerak/hidup, ada lagi lima unsur lain yaitu Panca Tan Matra. Untuk penyaluran hidup ini, di dunia ada Tri Guna. Kemudian sebagai sumber adanya hidup dan kehidupan ialah Tri Murti yaitu utpati (Brahma), stiti (Wisnu), dan pralina (Siwa), dengan kata lain yaitu lahir, hidup, dan mati. Apa yang ada kesudahannya akan tiada. Oleh karena itu, kelahiran akan berkesudahan dengan kematian, dengan kembalinya unsur-unsur tersebut kepada asal mulanya.

 


ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA

LONTAR TUTUR ANDA BHUWANA, TATTWA KALA, AJI SWAMANDALA (2000)

 

  1. LONTAR TUTUR ANDA BHUWANA

Lontar Anda Bhuwana merupakan sebuah naskah lontar yang memuat tuntunan praktis yang pada intinya menguraikan tentang kutukan Bhatara Gana kepada ibunya Dewi Giriputri untuk turun ke dunia menjadi Dewi Durgha yang dipuja oleh seluruh umat manusia di dunia. Lontar ini menggunakan bahasa campuran antara Bahasa Jawa Kuna dan Bahasa Bali.

Ceritanya diawali ketika Bhatari Giriputri berada di Gunung Mahameru dengan Sang Hyang Paramestiguru. Pada waktu itu Bhatari Giriputri mengidamkan air susu lembu. Oleh karena itu, Bhatara Paramestiguru mengutus Bhatari Giriputri untuk mencarinya ke desa-desa, ke pegunungan, dll. Selama dalam pencariannya, Bhatari Giriputri tidak menemukan orang yang mengembalakan lembu, sampai akhirnya Beliau tiba di Gunung Ekalaya bertemu dengan pengembala lembu (yang tidak lain adalah Bhatara Paramestiguru yang telah berubah wujud menjadi pengembala). Bhatari Giriputri mendekati pengembala lembu dan memohon belas kasihannya agar bersedia memberikan air susu lembunya walaupun dengan cara memberi, menukar dengan mas, perak, ataupun permata. Tetapi sang pengembala tidak bersedia memberikan air susu lembu, kecuali bila Bhatari Giriputri mau bersenggama dengannya.

Oleh karena Bhatari Giriputri menginginkan air susu itu, maka Beliau bersedia dijamah, tetapi hanya pada betis kakinya. Maka terjadilah persetubuhan itu, yang akhirnya melahirkan segala makhluk yang disebut kumangkang-kumingking, kumatap-kumitip, dan sejenisnya.

Bhatara Paramestiguru yang mengetahui hal itu kemudian mengutus putranya Bhatara Gana untuk menemui ibunya dan meramal menurut Pustaka Tenung Wariga. Bhatara Gana mengikuti perintah ayahnya, lalu menghadap Bhatari Giriputri, dan menyatakan sesuai dengan bunyi Tenung Wariga bahwa Bhatari Giriputri mendapatkan air susu lembu dengan cara bersenggama. Bhatari Giriputri sangat marah, lalu Pustaka Tenung Wariga itu dibakar. Akan tetapi, dengan sigap Bhatara Gana menyalin kembali pustaka yang terbakar tersebut sebagaimana aslinya. Bhatara Gana sangat marah, lalu mengutuk Bhatari Giriputri menjadi Durgha serta tidak dibenarkan bertemu kembali dengan Bhatara Paramestiguru.

Bhatari Giriputri menyesali perbuatannya, lalu menghadap Bhatara Paramestiguru untuk menyampaikan kutukan putranya Bhatara Gana pada dirinya. Bhatara Paramestiguru menyampaikan kepada Bhatari Giriputri, ajaran Pustaka Indraloka, kalau Dewi mempunyai perilaku yang poraka yaitu; membunuh, meracuni, mengacep-acep, menanam pepasangan, andesti, aneluh, dan sejenisnya, maka sebaiknya Bhatari Giriputri turun ke dunia menjadi penghulu kuburan dan disembah oleh manusia semua. Jika Dewi berada di Timur dan dipuja oleh orang di Pura Dalem Dhurgalaya, maka disebut Hyang Bhagawati. Jika berada di Selatan dan berstana di Pura Dalem Cungkub, maka diberi gelar Dhurgadewati. Jika berada di Barat dan berstana di Pura Dalem Sunya, diberi gelar Hyang Laksmidewati. Jika di Utara dan berstana di Pura Dalem Kadewatan, maka diberi gelar Hyang Nini Dewati. Dan jika berada di tengah-tengah dan berstana di Pura Dalem Dharmawisesa, maka diberi gelar Bhatari Dewati. Bhatari dipuja oleh semua orang dan Bhatri pula yang menentukan hidup matinya semua makhluk.

Untuk melaksanakan tugas tersebut, Bhatara Paramestiguru menganugrahkan bhuta-bhuti sebanyak 108 untuk mengiringi Dewi turun ke dunia. Apabila Dewi telah berstana di Pura Dalem Kadewatan, ingin bertemu dengan Bhatara Paramestiguru. Dewi sebaiknya memerintahkan manusia untuk membuat Rajapati sebagai tempat bersemayamnya Bhatara Paramestiguru dan Bhatari apabila Beliau turun ke dunia. Bhatari juga dibenarkan untuk menyebarkan wabah penyakit kepada manusia dan binatang peliharaannya pada bulan Kasa sampai Sada dengan berbagai jenis penyakitnya. Selain itu, Bhatara Paramestiguru juga mengingatkan, bila manusia telah menghaturkan caru berupa segehan agung untuk memohon ampun agar mereka selamat, hendaknya Bhatari juga memaafkannya dengan memerintahkan kepada semua bhuta bhuti untuk menghentikan menyebarkan penyakit, khususnya penyakit cacar. Begitu pula jika Bhatari ingin kembali ke Sorga Siwagamburanglayang bertemu dengan Bhatara Paramestiguru, maka Bhatari harus telah disucikan oleh Hyang Tri Purusa dengan berbagai tirtha suci seperti Tirtha Samudra, Tirtha Suranadi, Tirtha Saraswati, Tirtha Yamuna, dsbnya. Tirtha itu semua adalah sumber pembersihan atau penyucian segala noda, dosa, penyakit, kutukan, dan penderitaan.

 

  1. TATTWA KALA

Tattwa Kala adalah sebuah naskah lontar yang bersifat Siwaistik yang secara spesifik menjelaskan tentang asal-usul kelahiran Sang Hyang Kala beserta anugrah-anugrah yang diterima dari orang tuanya, Bhatara Siwa dan Dewi Uma.

Uraiannya dimulai ketika Bhatara Siwa dan Bhatari Uma pergi ke laut untuk melihat keindahan laut. Pada waktu itu muncul nafsu Bhatara Siwa, tetapi sebelum terjadi hubungan, sperma Bhatara Siwa sudah keluar dan jatuh di laut. Sperma itu dikatakan bercahaya, sehingga mengagetkan Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu, yang kemudian atas kesaktian yoganya (Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu), sperma itu berhasil dikumpulkan dan terlahir menjadi raksasa yang tinggi dan besar, yang nantinya disebut Hyang Kala.

Si raksasa ingin mengetahui siapa sebenarnya orang tuanya. Kemudian ia berteriak keras-keras sampai menggoncangkan alam sorga. Dewata Nawasangha menjadi murka, kemudian datang bersama-sama mengeroyok, namun raksasa (Hyang Kala) tidak melawan dan tidak terluka. Bhatara Siwa kemudian turun menghadapinya. Akhirnya terjadi perang tanding antara Bhatara Siwa dan raksasa. Si raksasa tidak dapat dilukai, hal ini menyebabkan Bhatara Siwa melarikan diri. Dari kejauhan Bhatara Siwa kemudian bertanya, apa sebabnya ia menyerang para dewata? Si raksasa menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud menyerang para dewata, tetapi ia hendak menanyakan siapa ayah ibunya.

Setelah mengetahui tujuan kedatangannya, Bhatara Siwa meminta agar taringnya dipotong, setelah itu baru Bhatara Siwa menjelaskan bahwa Beliau sendiri adalah ayahnya dan Dewi Uma adalah ibunya. Dan sejak itulah si raksasa diberi nama Hyang Kala. Hyang Kala diberi anugrah membunuh yang bersalah dan memberi hidup yang tidak bersalah, serta menumbuhkan segala yang bernafas. Bhatari Uma kemudian memerinthkan Hyang Kala agar tinggal di Pura Dalem dengan Bhatari Durga sebagai dewanya golongan Kala, Durga, Raksasa, hama, bisa, dan lain-lain segala yang gaib. Ketika Dewi Uma masuk ke Pura Dalem, Beliau bergelar Bhatari Durga dan Hyang Kala (Bhatara Durga) bernama Kalika, dan Hyang Kala juga memiliki gelar-gelar yang lain sesuai dengan tempat dan masanya.

Bhatari Durga juga memberi anugrah yang dapat dijadikan makanan oleh Hyang Kala yaitu: (1) orang yang tidur sampai sore dan bangun setelah matahari terbenam, (2) Anak kecil menangis di malam hari, kemudian ditakut-takuti oleh orang tuanya dengan berkata: “ya ya makan ini makan”, (3) orang membaca kidung, kekawin, dan tutur utama di tengah jalan, (4) orang yang merapatkan perkumpulan (nyangkepang) di jalan. Bhatari Durga juga menekankan agar Hyang Kala memberikan anugrah kepada orang yang tahu pemujaan terhadap dirinya meski apa pun yang dimohonnya. Karena orang yang tahu pemujaan terhadap Hyang Kala adalah manusia sejati. Manusia sejati dapat bercampur dengan Bhuta, Kala, Durga, dan Dewa, Bhatara, Hyang. Sebaliknya menghukum orang yang berperilaku tidak sesuai dengan kelahirannya.

Bhatara Siwa juga memberikan wejangan kepada Hyang Kala sebagai berikut: (1) Hyang Kala dapat mengambil jiwa manusia atau binatang pada Sasih Kesanga (sekitar bulan Maret) terutama orang yang berdosa, jahat, bersenggama tidak sesuai dengan sila krama, dharma sesana, dan agama, (2) dapat menyebarkan penyakit kusta, hama, dan penyakit binatang yang tidak dapat diobati pada desa adat atau wilayah yang terkena cemar atau alamat buruk, (3) untuk keselamatan negara dan rakyat, sang pemimpin dapat melaksanakan upacara yadnya sebagai penebus jiwa yang ditujukan kepada Hyang Kala dan semua dewata, (4) Rincian yadnya yang harus dilaksanakan yaitu: Manusia Yadnya, Bhuta Yadnya, Resi Yadnya, Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Siwa Yadnya, Aswameda Yadnya, (5) setiap pelaksanaan yadnya harus bersaksikan Sang Hyang Weda Carana (Catur Weda) karena Beliau adalah dampati Sang Hyang Aditya dengan mendirikan Sanggar Surya. Lebih lanjut Bhatari Durga juga memberikan wejangan kepada putranya sebagai berikut: (1) perihal tanda-tanda penyakit manusia, apakah si sakit akan meninggal atau sehat, beserta obat untuk penyembuhannya. Hidup atau meninggalnya orang yang sakit akan tampak pada diri orang yang sakit dan sikap orang yang datang mencari dukun, (2) pada setiap pelaksanaan puja wali dan pada setiap penyelenggaraan upacara orang mati patut disertai dengan tirtha (air suci) pendeta Siwa-Budha, karena tirtha tersebut berfungsi sebagai “siddhaning” pelaksanaan masing-masing, (3) menjelaskan prihal tanda-tanda orang hamil, (4) menjelaskan intisari ajaran Canting Mas dan Siwer Mas.

  1. AJI SWAMANDALA

Aji Swamandala menguraikan tentang ajaran Pitra Yadnya yang penyusunannya tidak berurutan, dan terputus-putus. Begitu juga penentuan hari baik dan buruk (padewasan) yang disampaikan sebagian besar padewasan yang berhubungan dengan Pitra Yadnya. Salah satu isi dari lontar ini adalah larangan dan kutukan orang yang menguburkan mayat. Bila ada orang yang menyelesaikan upacara kematian pada Tumpek, maka Sang Hyang Tugini akan menenggelamkan roh orang itu ke neraka. Bila ada orang menyelesaikan upacara kematian pada hari Rebo Kliwon, baik yang meninggal maupun keluarga orang yang meninggal akan mendapat hukuman dari Sang Hyang Buddha. Bila melaksanakan upacara kematian pada hari Anggara (Selasa) Kliwon, maka akan dihukum oleh Sang Wirasmara. Pada waktu Purnama dan Tilem (Bulan Mati) juga dilarang untuk melakukan upacara orang yang meninggal. Ada juga larangan mengupacarai mayat orang yang meninggal yang dikubur yang lamanya belum satu tahun. Bila hal ini dilanggar maka atma orang yang meninggal itu akan tidak mencapai kalepasan dan pendeta yang menyelesaikan upacara itu termasuk pendeta dusta.

Mengenai orang mati yang dikubur tanpa batas waktu untuk mengupacarai. Hal ini dapat dilaksanakan bila pada waktu mayat itu dikubur disertai dengan upacara pangentas, panebasan, dan permakluman kepada Bhatara yang berkuasa atas kuburan. Bila ada orang meninggal karena penyalit menular, harus segera dikubur, sedangkan bagi mayat pendeta atau seorang sudra yang telah melaksanakan upacara masurud ayu tidak boleh dikubur. Seseorang tidak boleh melaksanakan upacara mamuja, menyapu di tempat suci, otonan (agunting) sampai pernikahan, bila yang bersangkutan masih mempunyai mayat yang belum diaben. Namun upacara tiga bulanan (nelubulanin) boleh dilaksanakan dengan menghaturkan pejati sebagai permakluman kepada orang yang meninggal itu.

 

 

 

 

 


BABAD MENGWI, BABAD KABA-KABA, PAMANCANGAH DALEM KRAMAS

(BENDESA MAS) 2002

 

  1. BABAD MENGWI

Seorang raja Mengwi bergelar I Gusti Ngurah Made Agung yang dijuluki Bima Sakti ingin mengetahui cerita leluhurnya, sehingga Beliau menghadap Mpu Kekeran, mohon agar Beliau menceritakannya. Mpu Kekeran mengawali ceritanya dengan menyebut Kerajaan Medang Kahyangan, dengan rajanya Hyang Mami Manasa keturunan Sang Hyang Hari. Turun temurun sampai dengan Sri Jayasabha berputra Arya Kadiri. Arya Kadiri berputra Arya Kresna Kepakisan, oleh Gajah Mada dikirim ke Bali menjadi patihnya raja Bali pertama (Sri Wawu Dateng) di Samprangan. Di Bali, Arya Kresna Kepakisan mempunyai dua orang keturunan yaitu Pangeran Nyuhaya dan Pangeran Made Asak. Keduanya menurunkan keturunan masing-masing.

Tersebutlah putra Pangeran Made Asak lahir dari putri Pangeran Kapal yang terkenal bernama Rakryan Patih Tuwa bernama Kriyan Dawuh atau I Gusti Agung Nginte, menjadi patih Raja Gelgel (Sri Agung Bekung), setelah gugurnya I Gusti Batan Jeruk. Beliau digantikan oleh anak cucunya, sampai dengan I Gusti Agung Dimade, sebagai patih Raja Gelgel terakhir bergelar Dalem Dimade. I Gusti Agung Dimade kemudian bermukim di Kuramas. Beliau berputra tiga orang yaitu: I Gusti Agung Putu, I Gusti Stri Ayu Madhe, dan I Gusti Agung Anom, yang kemudian bergelar I Gusti Agung Made Agung, sebagai pendiri Kerajaan Mengwi.

Selanjutnya Mpu Kekeran menceritakan tahapan-tahapan dari pemerintahan kerajaan di Bali, dengan segala liku-liku kejadian-kejadian yang timbul sesuai dengan penuturan dalam Babad Dalem dan lain-lainnya, serta keturunan Arya Kresna Kepakisan.

I Gusti Agung Made Agung digantikan oleh putranya bernama I Gusti Agung Putu. Beliau kurang bijaksana memegang tapuk pemerintahan, sehingga timbul pertengkaran antara lain dengan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng yang tinggal di Kekeran. I Gusti Agung Putu ditawan di Tabanan. Kemudian I Gusti Agung Putu berhasil mengalahkan I Gusti Ngurah Watu Tumpeng, dan daerah sekitarnya. I Gusti Agung Putu bergelar I Gusti Agung Sakti, kemudian menyerang Den Bukit bersama-sama teruna Bata-Batu, berhadapan dengan I Gusti Panji Wayahan dengan teruna Gowaknya, dan Den Bukit pun menyerah. I Gusti Agung Sakti kemudian menikah dengan putri I Gusti Panji Sakti yang bernama I Gusti Ayu Panji. Beliau menguasai Den Bukit, Jembrana, dan Blambangan. Selanjutnya Beliau dibhiseka bergelar I Gusti Agung Ngurah Made Agung Bima Sakti atau Cokorda Sakti Blangbangan. I Gusti Ngurah Made Agung digantikan oleh putranya yang bergelar I Gusti Ngurah Made Agung seperti nama ayahnya, atau Cokorda Made Agung Banya.

Demikianlah turun-temurun memegang tapuk pemerintahan Kerajaan Mengwi dengan beragam romantikanya, sampai dengan Pulau Bali menjadi kekuasaan Pemerintahan India Belanda.

  1. BABAD KABA-KABA

Setelah Bali dapat dikalahkan, secara otomatis Bali berada di bawah kekuasaan Jawa (Majapahit). Para arya yang berjasa dalam penaklukan tersebut diberikan kekuasaan di daerah tersebut. Arya Belog sebagai salah satu yang ikut dalam penyerangan itu akhirnya diberikan kekuasaan di daerah Kaba-Kaba dengan rakyat lima ribu orang. Selama pemerintahannya, Beliau berhasil membangun sebuah pura yang berada di sebelah Timur Laut istana, yang bernama Pura Gunung Agung. Sebagai penguasa daerah Kaba-Kaba, Arya Belog begitu dekat dengan Dalem di Samprangan, sehingga pada akhirnya Beliau dianugrahi oleh Dalem.

Diceritakan Arya Belog telah wafat karena telah lanjut usia. Beliau kemudian digantikan oleh putranya bergelar Arya Anglurah Kaba-Kaba. Sang putra pun begitu setianya mengabdi kepada Dalem. Setelah Arya Anglurah Kaba-Kaba wafat, Beliau kemudian digantikan oleh putranya yang tertua. Dalam menjalankan roda pemerintahan sempat terjadi keributan yang dipicu oleh adiknya sendiri (Kyayi Buringkit) yang ingin merebut tapuk pemerintahan kakaknya, namun keributan itu dapat dilerai. Dengan kejadian tersebut, akhirnya sang raja berpesan kepada kedua putranya, hendaknya supaya hidup rukun. Setelah raja wafat, kemudian Beliau digantikan oleh Anglurah Agung Putra Teges, sedangkan adik tirinya, Kyayi Kaladyan dinobatkan menjadi raja muda. Setelah Raja Anglurah Agung Putra Teges wafat, Beliau digantikan oleh putranya yang bergelar Arya Anglurah Kaba-Kaba Suddha Teges. Raja Arya Anglurah Kaba-Kaba Suddha Teges tewas di Blambangan, atas perintah Dalem untuk berperang menyerbu Blambangan, sehingga Beliau disebut Bhatara Raja Dewata di Blambangan. Beliau kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Arya Anglurah Kaba-Kaba Yuddha Teges. Setelah wafat, Arya Anglurah Kaba-Kaba Yuddha Teges digantikan oleh putranya yang bernama Arya Anglurah Sena Teges. Setelah Arya Anglurah Sena Teges wafat, Beliau kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Anak Agung Ngurah Gede Teges. Setelah Arya Anak Agung Ngurah Gede Teges wafat, Beliau digantikan oleh putranya yang bernama Anak Agung Ngurah Gede Kaba-Kaba Teges. Anak Agung Ngurah Gede Kaba-Kaba Teges digantikan oleh putranya yang bergelar Anak Agung Ngurah Gede Teges. Anak Agung Ngurah Gede Teges digantikan oleh putranya yang bergelar Anak Agung Ngurah Gede Kaba-Kaba Teges.

Anak Agung Ngurah Gede Kaba-Kaba Teges tidak memiliki putra, sehingga Beliau mengangkat putra dari Puri Kesiman negara Badung, putra dari Anak Agung Ngurah Gede, dan setelah menjadi putranya, Anak Agung Ngurah Gede Kaba-Kaba Teges bernama Anak Agung Ngurah Badung. Setelah Beliau mengangkat putra, barulah Beliau mempunyai putra dan putri dua orang.

 

 

 

Diceritakan bahwa pada masa pemerintahan Anak Agung Ngurah Gede Kaba-Kaba Teges, Kerajaan Kaba-Kaba diserbu oleh Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Kaba-Kaba berhasil dikuasai, habis seluruh isi puri dijarah. Kerajaan Tabanan yang mengetahui hal itu kemudian menyerang Kerajaan Mengwi. Kerajaan Mengwi pun berhasil dikalahkan, dan pergi meninggalkan Kaba-Kaba.

Diceritakan pula, pada masa pemerintahan Anak Agung Ngurah Gede Kaba-Kaba Teges, Bali dalam keadaan kacau balau, sebab Sri Aji Bali sudah kalah berperang melawan Belanda. Mulai saat itu Bali dikuasai oleh Belanda. Setelah Anak Agung Ngurah Gede Kaba-Kaba Teges wafat, Beliau kemudian digantikan oleh Anak Agung Ngurah Gede Teges. Anak Agung Ngurah Gede Teges setelah wafat digantikan oleh putranya yang bernama Anak Agung Ngurah Putu Keweh bergelar Anak Agung Ngurah Gede Putra Teges.

Diceritakan pada tahun masehi 1942, ada pergantian penguasa di Bali. Belanda dikalahkan oleh Jepang, dan Bali dikuasai oleh Jepang. Jepang tidak lama memerintah di pulau Bali. Pada tahun masehi 1945 Jepang dikalahkan oleh Amerika, dan mulai saat inilah Indonesia mendapatkan kemerdekaannya.

Dalam Lontar ini juga disebutkan bahwa keturunan raja Kaba-Kaba tidak boleh menyakiti dan memakan burung tuwu-tuwu karena Raja Arya Anglurah Kaba-Kaba berhutang nyawa pada burung tuwu-tuwu. Pada saat Kyayi Buringkit, adik baginda raja yang ingin merebut tapuk pemerintah sang raja menyerang kerajaan, saat itu raja kebetulan tidur di pura Resi. Pada tengah hari ada burung tuwu-tuwu bersuara di pohon mangga di halaman Pura Resi, keras suaranya sehingga membangunkan baginda raja. Terdengar oleh baginda suara orang bertempur sangat ramai di sebelah utara pura, saat itu keluarlah sabda baginda raja: “Uduh engkau burung tuwu-tuwu, engkau yang membangunkan aku kala tidur, andai tidak demikian, barangkali mati aku saat tidur diamuk oleh musuh. Sekarang ada kaulku padamu tuwu-tuwu, seketurunanku tidak boleh menyakiti dan memakan burung tuwu-tuwu, sebab aku berhutang nyawa padamu”.

 

  1. PAMANCANGAH DALEM KRAMAS (BENDESA MAS)

Sri Aji Dalem Kramas yang berkuasa di wilayah Kramas adalah keturunan Sri Dalem Wira Kesari, ksatria dari Kediri. Beliau berputra I Dewa Kramas yang kemudian pindah dan menetap di desa Taro. Beristrikan putri Pangeran Bandesa Taro, yang kemudian melahirkan tiga orang putra dan putri. Yang sulung bernama Pangeran Gading Warni, menjadi pemuka desa di desa Gading Wani, adiknya bernama Pangeran Bandesa Mas menjadi penguasa di desa Mas, dan si bungsu bernama Ni Luh Ayu Rukmi yang diperistri oleh Ki Gusti Pasek Pasar Badung dan berputrakan Ki Pangeran Bandesa Manikan dan I Gusti Pasek Manik Mas.

Diceritakan desa Gading Wani tertimpa wabah penyakit, kemudian ditolong oleh seorang pendeta dari Jawa yang bernama Dang Hyang Dwijendra dengan kunyahan sirih dan percikan tirtha. Akhirnya seluruh masyarakat Gading Wani yang tertimpa wabah menjadi waras, sehat seperti sedia kala. Selanjutnya Ki Bandesa Gading Wani mohon ditasbihkan menjadi seorang pendeta. Berita ini kemudian tersebar sampai ke desa Mas. Lalu Sang Pendeta diundang ke Desa Mas oleh Pangeran Bandesa Mas. Setelah Sang Pendeta berada di desa Mas, lalu Beliau membangun sebuah permandian yang bernama Taman Pule.

Setelah lama Beliau berada di desa Mas, kemudian Pangeran Bandesa Mas mohon agar disucikan menjadi seorang pendeta. Permohonan Pangeran Bandesa Mas dikabulkan dan selanjutnya disucikan dan diberikan wejangan-wejangan dan anugrah. Membalas kebaikan Sang Pendeta, Pangeran bandesa Mas lalu mempersembahkan putrinya yang bernama Ni Gusti Luh Ayu Kencana, dan selanjutnya diperistri oleh Sang Pendeta dengan upacara widi widana. Selanjutnya mereka melahirkan putra yang tampan dan pintar, setelah disucikan bernama Mpu Kidul atau Batara Sakti Buk Cabe, yang juga disebut Brahmana Mas.

Juga ada anugrah Dang Hyang Dwijendra kepada Pangeran Bandesa Mas, diperkenankan maprawerti, mengumandangkan weda, diantaranya Weda Sulambang Geni, Weda Pasupati Racana, serta Canting Mas. Pada saat melaksanakan Pitra Yadnya dibenarkan memakai beberapa hiasan.

Diceritakan setelah keturunan Pangeran Bandesa Mas menjadi banyak, mengabdi pada Batara Sakti Buk Cabe di desa Mas. Suatu hari, ladang Batara Sakti Buk Cabe dirusak oleh seekor kuda milik Anglurah Mambal. Kuda tersebut lalu dilempari batu hingga mati. Itulah yang menyebabkan terjadinya pertempuran antara Batara Sakti Buk Cabe dengan Anglurah Mambal. Pada saat terjadinya pertempuran, Batara Sakti buk Cabe ditinggal oleh sanak saudara Bandesa Mas dan Bandesa Pamajengan, sehingga Beliau bertempur sendirian. Bandesa Mas dan Bandesa Pamajengan lalu dikutuk oleh Beliau supaya tidak ada Bandesa Mas dan Bandesa Pamajengan di desa Mas.

Sri Dalem Wijaya Tanu yang berkuasa di Sukawati mendengar berita bahwa Ki Pangeran Mas mempunyai hiasan kepala berisi permata nawaratna yang didapat pada seekor ikan nyalian. Beliau berkeinginan untuk melihat permata tersebut. Karena kutukan dari Batara Sakti Buk Cabe, maka diserbulah desa Mas oleh Sri Wijaya Tanu, yang menyebabkan keturunan Bandesa Mas dan Bandesa Pamajengan mengungsi ke desa-desa seluruh Bali. Yang masih tinggal di desa Mas berganti nama menjadi Bandesa Besang, Bandesa Kliki, dan bandesa Poh Gading.


TEKS, ALIH AKSARA & ALIH BAHASA LONTAR

YAMA PURWWA TATTWA, YAMA PURANA TATTWA,

YAMA PURWANA TATTWA, YAMA TATTWA (1997)

 

  1. YAMA PURWWA TATTWA

Lontar ini menguraikan tentang sesajen yang digunakan pada upacara pengabenan yang pada dasarnya merupakan simbol-simbol dari organ tubuh manusia. Dalam lontar ini juga diuraikan mengenai hakikat manusia. Pada hakikatnya manusia adalah stana Sang Hyang Ongkara, sedangkan Ongkara adalah hakikat alam semesta. Kalau ada orang yang mengetahui hal ini, walaupun tanpa upacara, ia akan dapat mencapai kelepasan, bebas dari segala penderitaan, dan hanya siswa yang susrusa sajalah yang patut dianugrahi ajaran kelepasan ini.

 

  1. YAMA PURANA TATTWA

Lontar ini memuat tentang bagaimana mengupacarai orang mati agar rohnya mendapat tempat yang baik, termasuk hari-hari yang baik untuk melaksanakan upacara pengabenan dan hari-hari yang tidak boleh dipakai untuk melaksanakan upacara ngaben.

 

  1. YAMA PURWANA TATTWA

Lontar ini menguraikan tentang rangkaian kegiatan pada upacara ngaben dan dilengkapi dengan bentuk-bentuk rerajahan, baik mengenai rerajahan pada badan perwujudan untuk orang yang dikubur, rerajahan pangentas, payuk, ulantaga, dan surat kajang, baik untuk orang dewasa laki-laki dan perempuan, juga untuk anak-anak.

 

  1. YAMA TATTWA

Lontar ini lebih menekankan pada bangunan (bentuk-bentuk bade) yang digunakan sebagai tempat pengusungan mayat ke kuburan dan siapa yang boleh memakai. Lontar ini juga menguraikan jenis bebantenan yang digunakan untuk mlaspas bade, serta mantra yang harus dilapalkan untuk menghaturkan sesajen sesuai dengan jenisnya.

 

 

Pada dasarnya keempat lontar di atas membicarakan tata cara mengupacarai orang yang meninggal, baik yang mati secara wajar maupun yang mati tidak wajar. Untuk orang yang mati secara wajar, sebaiknya dibakar jangan dikubur, bila dikubur buatkan pejati dan upacara “adeg semaya” bahwa jasad yang dikubur akan segera diupacarai (ngaben). Sedangkan bagi mereka yang mati secara tidak wajar harus dikubur sesuai dengan batas waktunya. Penguburan boleh dilakukan bila dunia dalam keadaan kacau seperti wabah penyakit sedang berjangkit, kedatangan musuh, maupun peperangan. Bila dalam keadaan ini, sebaiknya setiap orang yang meninggal segera dikubur, sesuai dengan tata cara penguburan mayat yang mati secara wajar. Apabila batas waktu dikubur telah selesai baru dibuatkan upacara ngaben, jika tidak maka roh orang yang meninggal itu akan menjadi Dete, Buta, sejenis makhluk halus lainnya.

Selain itu jmenguraikan tata cara pengabenan untuk mayat yang dikubur, dalam lontar tersebut juga diuraikan mengenai upacara pengabenan bagi orang yang meninggal yang jenazahnya tidak diketemukan. Untuk orang yang meninggal jasadnya tidak diketemukan dapat dilaksanakan dengan Upacara Swasta, sebagai badan perwujudannya dapat digunakan air suci dan pelaksanaannya dapat dilakukan di Sanggar. Setelah upacara pengabenan baru dapat dilakukan upacara memukur.


BHUWANA SANG KSEPA, SANGHYANG MAHAJŇANA,

SIWA TATTWA PURANA (1995)

 

  1. BHUWANA SANG KSEPA

Lontar ini memuat tetang ajaran Siwa Tattwa yang disajikan dalam bentuk dialog antara Bhatara Siwa (Iswara) dengan istrinya, Bhatari Uma, dan putranya, Bhatara Kumara. Lontar ini terdiri dari 128 sloka menggunakan bahasa Sansekerta, dengan terjemahannya ke dalam bahasa Jawa Kuna, namun tidak seluruh sloka ada terjemahannya ke dalam bahasa Jawa Kuna. Isi dari lontar ini pada intinya adalah mengenai cara untuk mencapai Kalepasan dengan ajaran Yoga. Dijelaskan pula mengenai cara Sang Yogiswara melaksanakan yoga. Bagaimana jalan menuju nirbhana. Yang nirbhana itu tempatnya tidak jauh namun juga tidak dekat, tidak di luar, namun juga tidak di dalam, tidak di atas, tapi juga tidak di bawah. Ia ada di mana-mana, wujudnya adalah sepinya dari sepi, gaibnya dari yang paling gaib, amat mulia. Untuk itu orang patut melaksanakan yoga nidra serta melepaskan pikiran dari obyeknya. Pada bagian akhir lontar ini juga menguraikan mengenai dewa-dewa Nawa Sanga dengan senjatanya masing-masing.

 

  1. SANGHYANG MAHAJŇANA

Lontar ini mengandung ajaran Siwatattwa, ajaran untuk mencapai kelepasan, disajikan dalam bentuk tanya jawab antara sang putra dengan sang ayah, Bhatara Kumara dengan Bhatara Guru. Adapun ajaran-ajarannya itu ialah:

    • Apakah yang disebut tidur dan jaga? Dasendriya itu disebut tidur, dan Pancabayu yaitu prana, apana, samana, udana, dan wyana disebut jaga.
    • Pradhana adalah malam hari, Purusa adalah matahari malam hari, dan atma adalah jnana (kebijaksanaan)
    • Purusa adalah kusir, pradhana adalah badan, kereta adalah Dasendriya, dharma-dharma adalah tali tali lisnya
    • Bhatara Wisnu adalah kereta, Bhatara Brahma adalah lembu, Bhatara Iswara adalah kusir, Bhatara Siwa berada di tengah kereta sebagai jiwanya
    • Di dalam tribhuwana ada Brahma bhuwana, Wisnu bhuwana, dan Rudra bhuwana. Pada inti bhuwana terdapat trikona, tempat Bhatara Siwa
    • Tryaksara dan tripada (Brahmapada, Wisnupada, dan Rudrapada) adalah Ongkara. Pikiran yang teguh berlindung pada Bhatara Siwa, Siwalingga yang tidak ada bandingannya

 

 

 

 

    • Dewanya jagrapada ialah Bhatara Brahma, dewanya Swapnapada ialah Bhatara Wisnu, dewanya Susuptapada ialah Bhatara Rudra, dewanya Turyapada ialah Bhatara Maheswara, dewanya Turyantapada ialah Bhatara Mahadewa, dewanya Kewalyapada ialah Bhatara Isana, dan dewanya Paramakewalyapada ialah Bhatara Paramasiwa yang disebut Kamoksan
    • Omkara amat mulia, paling mulia diantara mantra, amat halus. Dengan sarana Omkara, seorang Yogiswara mendapatkan Kamoksan
    • Untuk dapat menginsyafi akan adanya Bhatara amat sulit. Orang yang mengetahui Tattwa Bhatara akan mencapai moksa.

 

  1. SIWA TATTWA PURANA

Siwa Tattwa Purana adalah salah satu dari sekian banyak lontar yang mengandung ajaran Agama Hindu yang bersifat Siwaistik. Jika ditinjau dari segi bahasa dan latar belakang budaya yang melatarinya, teks ini ditulis di Bali pada jaman Bali Tengahan. Dapat dikatakan sebagai teks minor yang isinya bersumber dari beberapa teks yang lebih tua.

Siwa (Sanghyang Jagatpati) mengajarkan ajaran agama kepada putra-putranya dengan cara berdialog. Di Siwaloka, pada Bulan Kartika, Sanghyang Jagatpati mengadakan pertemuan dengan putra-putranya: Sanghyang Brahma, Wisnu, Iswara, Mahesora, Sangkara, Rudra, Indra, Yama, Surya, Ganapati, dan lain-lainnya. Pada kesempatan itu, Sanghyang Jagatpati mengajukan pertanyaan kepada putra-putranya: “Apa yang akan kau lakukan seandainya Aku meninggalkan badan wadag-Ku ini, demikian pula jika Aku meninggal sebagai seorang brahmana, ksatrya, wesia, dan sudra?”

Menanggapi pertanyaan itu, dengan penuh rasa bhakti, putra-putranya menguraikan tentang Pitra Yadnya dari tingkat nista, madia, dan utama. Upacara ini diantaranya yang diterangkan adalah : ngaben, nyekah, mamukur, maligia, dan angluer. Setelah putra-putranya menguraikan hal tersebut, Beliau kemudian mengajarkan dan menerangkan mengenai Manusa Yadnya, Bhuta Yadnya, dan Dewa Yadnya. Jika kita ingin hidup bahagia, sebagai umat Hindu kita sepatutnya mempelajari dan melaksanakan ajaran-ajaran tersebut.


BHUWANA MAHBAH, PURWA BUMI KAMULAN, SIWA SASANA,

SILA KRAMANING AGURON-GURON (1996)

  1. BHUWANA MAHBAH

Tutur Bhuwana Mahbah adalah salah satu lontar tatwa yang mengandung ajaran Siwa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Kawi Bali. Teks Tutur Bhuwana Mahbah menguraikan tentang proses terciptanya alam semesta. Bahwa pada mulanya tidak ada sesuatu apa pun. Pertama-tama muncullah dengan sendirinya Sanghyang Guru Widhi Tunggal yang juga disebut Sanghyang Sunya. Beliau adalah dewanya para dewa penguasa alam. Gaib ada-Nya. Dari yoga-Nya terciptalah Sanghyang Mareka Jati (Istadewata) demikian seterusnya, berbagai aspek Tuhan itu mawujud dan mencipta isi dunia sesuai dengan kedudukan dan fungsinya.

Isi lain dari naskah ini adalah tentang aksara Bali yaitu wresastra, swalalita, dan modre. Ada berbagai lambang mistik magis yang bersumber dari aksara tersebut. Ajaran ini dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, baik untuk kepentingan duniawi maupun untuk kepentingan rohani.

 

 

  1. PURWA BUMI KAMULAN

Purwa Bumi Kamulan termasuk kelompok lontar tattwa. Lontar ini berisi ajaran tentang penciptaan dunia yang diuraikan secara mitologis. Seluruh ajarannya bersifat Siwaistik. Pokok-pokok ajarannya antara lain:

    • Bhatara-Bhatari adalah dua sumber kekuatan yang mula-mula ada. Dari kekuatan yoga Bhatari terciptalah Dewata, Panca Resi, dan Sapta Resi sebagai isinya dunia. Pada tahap berikutnya barulah diciptakan dunia. Gangga tercipta dari cucuran keringat. Samudra tercipta dari garam yang keluar dari badan. Prathiwi tercipta dari garam yang keluar dari badan. Selanjutnya Sanghyang Dharma menciptakan “Maha-Padma”, matahari, bulan, Panca Mahabutha, dan Catur Pramana.
    • Setelah itu Bhatari Uma merubah wujudnya sebagai Durga. Bulu-bulu badannya diciptakan sebagai Kala, sumber kejahatan di dunia. Dengan kekuatan yoganya, Durga menciptakan semua isi samudra (ikan, dsbnya)
    • Bhatari Guru kemudian turun ke bumi sebagai Bhatara Kala karena tertarik oleh kekuatan pandang Bhatari Durga. Dan dengan kekuatan yoganya Bhatara Kala menciptakan Kala.
    • Manusia adalah santapan Bhatara Kala. Manusia yang disantap adalah: orang yang lahir pada wuku carik (wayang), kadana kadani (kembar siam), bersaudata lima, tunggak wareng (tus tnggal), unting-unting, uduh-uduh rare bajang.
    • Selanjutnya Bhatara Kala turun ke dunia membuat tempat pemujaan. Begitu pula Brahma, Wisnu, dan Iswara diperintahkan turun ke dunia. Brahma sebagai brahmana, Wisnu sebagai bhujangga, Iswara sebagai resi. Mereka diberi tugas oleh Bhatara Kala untuk menghaturkan sesaji kepada dirinya dan Bhatari Durga, dan meruwat sepuluh jenis kekotoran (manusia)
    • Itulah permulaan manusia memuja Tuhan. Bhatara Kala dan Bhatari Durga tidak lagi menyantap manusia. Rupanya yang mengerikan kembali seperti semula sebagai Guru dan Uma, kembali ke Siwapada.

 

  1. SIWA SASANA

Siwa Sasana adalah sasana untuk para Pandita Saiva, karena di dalamnya ada menyebutkan bahwa sasana ini untuk Pandita Saiva di Jawa, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa lontar ini ditulis di Jawa.

Agama Hindu di Indonesia adalah Agama Hindu yang memuja Bhatara Siwa sebagai Tuhan yang tertinggi. Sanghyang Widhi Wasa adalah sebutan Tuhan yang amat umum. Bhatara Siwa adalah Sanghyang Widhi sendiri. Bhatara Siwa dipuja oleh umat Hindu Indonesia. Ia dipuja sebagai Tri Murti, sebagai Panca Brahma, dan sebagai Dewata Nawasanga.

Di dalam Siwa Sasana disebutkan adanya “paksa-paksa (sekte)” Saiva yaitu Saivasiddhanta, Wesnawa, Pasupata, Lepaka, Canaka, Ratnahara dan Sambhu. Di antara sekte-sekte itu yang masih sampai sekarang adalah Saivasiddhanta untuk menamakan ajaran agama Hindu Indonesia.

Di dalam Siwa Sasana ada pandita yang disebut dang acarya wrddha pandita, sriguru pata, dang upadhyaya pita maha, prapita maha, dan bhagawanta yang maing-masing berarti pandita guru yang agung, guru yang mulia yang senang membaca, kakek guru, kakek yang agung, dan bhagawan. Kepada merekalah Siwa Sasana ditujukan untuk dilaksanakan dengan tujuan agar mereka dapat mempertahankan martabatnya sebagai pandita, dan menegakkan dharmanya. Dalam lontar ini juga diuraikan mengenai syarat-syarat seorang acarya yang dapat dijadikan guru dan apa yang harus dihindari sebagai guru. Siwa Sasana diakhiri dengan ancaman hukuman keras kepada barang siapa yang berani melakukan upawada (cercaan) kepada para sadhaka.

 

  1. SILA KRAMANING AGURON-GURON

Lontar ini adalah satu naskah Jawa Kuna yang termasuk kelompok lontar etika, lebih mengkhusus lagi termasuk kelompok sesana karena lontar ini berisi petunjuk-petunjuk atau nasihat-nasihat tentang bagaimana kewajiban dan tata krama seorang sisia (murid) dalam berguru. Sisia yang dimaksudkan adalah sisia kerohanian atau calon pendeta yang hendak menerjunkan diri dalam hidup keagamaan sebagai “parasraya”. Oleh karena itu, dalam lontar ini diuraikan mengenai beberapa hal peting yang patut dijadikan pedoman oleh seorang calon pendeta, diantaranya yaitu: Seorang sisia harus bhakti kepada guru, sisia harus selalu berpegang teguh pada kebenaran, tidak boleh iri hati, menyihir, menjalankan ilmu hitam, seorang sisia harus selalu dalam keadaaan suci lahir dan bathin, di dalam menuntut ilmu seorang sisia harus selektif dalam mencari guru, upayakan pengendalian indria dan arahkan pada yang baik untuk membebaskan diri dari belenggu indria, dll.

BABAD ARYA TABANAN (1997)

 

BABAD ARYA TABANAN

Babad ini menceritakan tentang Siraryya Kenceng beserta keturunannya di Tabanan, dan sampai berakhirnya kerajaan Tabanan.

Pada jaman dahulu di Kerajaan Kahuripan ada enam orang bersaudara laki-laki, yang tertua bernama Rahaden Cakradara, kedua Siraryya Dhamar, ketiga Siraryya Kenceng, keempat Siraryya Kuta Wandira, kelima Sirarya Sentong, dan yang bungsu Sirarya Tan Wikan (Belog).

Setelah Bali dapat dikalahkan, secara otomatis Bali berada di bawah kekuasaan Jawa (Majapahit). Para arya yang berjasa dalam penaklukan tersebut diberikan kekuasaan di daerah tersebut. Sirarya Kenceng sebagai salah satu yang ikut dalam penyerangan itu akhirnya diberikan kekuasaan di daerah Tabanan dengan rakyat empat puluh ribu orang. Sirarya Kenceng beristana di sebuah desa bernama Pucangan atau Buwahan di sebelah selatan Baleagung. Batas daerah kekuasaan Beliau : sebelah Timur Sungai Panahan, sebelah Barat Sungai Sapwan, sebelah Utara Gunung Beratan atau Batukaru, sebelah Selatan daerah-daerah di Utara desa Sanda, Kurambitan, Blungbang, Tangguntiti, dan Bajra. Pemerintahannya berjalan dengan tertib, dan tidak seorang pun berani durhaka atas kebesaran wibawa Batara Arya Kenceng sebab Beliau menerapkan disiplin yang membaja, tidak ketinggalan sifat ramah tamah dan manis dalam kepemimpinannya. Beliau menguasai berbagai ilmu pengetahuan, juga seorang yang gagah perkasa, unggul dalam peperangan.

Batara Arya Kenceng menikah dengan seorang keturunan brahmana di Ketepengreges wilayah Majapahit, dan memiliki dua orang putra. Sedangkan dari wanita Tegeh Kori memiliki seorang putra dan seorang putri. Sebagai penguasa daerah Tabanan, Arya Kenceng begitu dekat dengan Dalem di Samplangan, karena Arya Kenceng juga menjabat sebagai menteri utama disamping sebagai raja, sehingga pada akhirnya Arya Kenceng dianugrahi oleh Dalem karena Arya Kenceng begitu pandai membesarkan hati raja.

Diceritakan Batara Arya Kenceng telah wafat, dan digantikan oleh putra keduanya yang bergelar Sirarya Ngurah Tabanan karena putra pertamanya tidak tertarik pada kebesaran dan kekuasaan. Sirarya Ngurah Tabanan kemudian digantikan oleh putra mahkota yang juga bergelar sama. Demikian seterusnya hingga Kerajaan Tabanan pada masa pemerintahan raja Sirarya Ngurah Rai Prang dikuasai oleh Belanda, pada tahun 1906 Masehi. Pada tahun Masehi 1908, Pemerintah Belanda membagi Tabanan menjadi 14 bagian, tiap-tiap bagian disebut distrik.


BABAD PULESARI (1998)

 

BABAD PULESARI

Babad ini menceritakan tentang Dalem Taruk yang berada di wilayah Tarukan (Pejeng). Akibat konflik dengan saudaranya Dalem Samplangan, akhirnya Beliau (Dalem Taruk) pergi dari istananya. Beliau menyamar pergi menuju desa pegunungan, hingga pada akhirnya Beliau menetap di Desa Pulesari (Pulasantun).

Diceritakan Sri Maharaja Dalem Kresna Kapakisan berputra tiga orang, yang tertua Dalem Samprangan, yang kedua Dalem Tarukan, dan yang bungsu Dalem Ketut. Sri Maharaja Dalem Kresna Kapakisan setelah lahir ketiga putranya, Beliau berpulang ke surga, dan digantikan oleh Dalem Samprangan.

Diceritakan Dalem Samprangan dan Dalem Tarukan mengalami perseteruan. Hal ini diakibatkan karena putra Dalem Tarukan dari istri bukan permaisuri (kaperingan) yang kemudian dijadikan anak angkat yang bernama Sirarya Kuda Panandhang Kajar, Oleh Dalem Tarukan, putri Dalem Samprangan diculik dan dikawinkan dengan Sirarya Kuda Panandhang Kajar, karena jika dipinang, sudah jelas Dalem Samprangan tidak akan senang.

Diceritakan bahwa Sirarya Kuda Panandhang Kajar dan istrinya, Ni Dewa Ayu telah terbunuh oleh Keris Si Tandha Langlang karena perbuatan mereka tidak benar. Si Tandha Langlang adalah pusaka yang dimiliki oleh Dalem Samprangan yang berupa panah Narayana, pemberian Sri Dewanatha dari Majapahit. Setiap ada yang berpikiran menetang terhadap Dalem, belum pasti kehendaknya, sudah mati dimakan Si Tandha Langlang. Datang menancap di dada yang berpikiran menentang. Wujud keris Si Tandha Langlang itu tidaklah tampak.

Berita kematian putrinya bersama Sirarya Kuda Panandhang Kajar terdengar oleh Dalem Samprangan, bahwa putrinya telah kawin dengan Sirarya Kuda Panandhang Kajar, dan ada di Istana Tarukan. Dalem samprangan menjadi sangat marah, mukanya merah seperti berbasuh darah, matanya mendelik seperti keluar api, dan kemudian memerintahkan seluruh abdinya untuk menyerang istana Tarukan. Istana Tarukan pun diserang. Dalem Tarukan yang mengetahui hal itu kemudian pergi mengungsi dari istananya, hingga pada akhirnya ia tiba di gunung Peniddha. Di kaki Gunung Peniddha Timur Beliau membangun pedukuhan, yang dinamai Pula Santun/Pulesari.

Dalam Babad ini juga diceritakan bahwa keturunan Dalem Tarukan tidak diperkenankan memakan buah jawa dan jali, juga burung perkutut dan puyuh karena mereka telah menolong Dalem Tarukan pada saat persembunyiannya karena dicari oleh utusan Dalem Samprangan di dusun Pantunan. Selain itu, keturunan Dalem Tarukan juga tidak diperkenankan memakan daging kijang karena merupakan tempat berhutang nyawa, karena putra Dalem Tarukan yang bernama I Dewa Gede Sekar, I Dewa Agung Alit lahir dari seorang bidadari yang sering menyusui putranya dengan berwujud kijang putih. Jika ada yang melanggar pantangan itu, maka ia akan kena kutuk, tidak menemukan keberhasilan dan keselamatan. Lebih-lebih tidak diakui sebagai keturunannya.

BABAD ARYA KANURUHAN (1997)

 

BABAD ARYA KANURUHAN

Babad ini menceritakan tentang Arya Kanuruhan beserta keturunannya. Beliau adalah seorang Arya keturunan Airlangga, sebagai penyarikan/sekretaris Dalem di Bali.

Arya Kanuruhan adalah putra dari Sirarya Sabrang. Sebelumnya ia bernama Kebo Taruna atau lebih dikenal dengan Sirayya Singha Sardhula. Kemudian pada waktu penyerangan yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada bersama-sama dengan para Arya yang lain menggempur Bedahulu, Beliau datang ke Bali dan menjabat kanuruhan, sehingga Siraryya Kebo Taruna berganti nama lalu bergelar Sirarya Kanuruhan.

Sirarya Kanuruhan, sebagai sekretaris kerajaan, bermukim di desa Tangkas. Benar-benar ikhlas sampai ke dalam hati kecil mengabdi pada raja/kerajaan. Paham benar akan tugas-tugasnya dan sangat disiplin. Mampu menarik perhatian rajanya, sehingga amat disayang, tidak pernah membantah suatu perintah, bagaimana pun sulitnya pekerjaan Dalem, demikianlah Arya Kanuruhan tidak pernah menolak/berpisah atas perintah dan kemana pun perginya raja.

Arya Kanuruhan memiliki tiga orang putra, yang sulung bernama Kyayi Brangsinga, adiknya Kyayi Tangkas, dan si bungsu Kyayi Pagatepan. Arya Kanuruhan, karena telah berketurunan dan telah lanjut usia, maka Beliau digantikan oleh putranya yang tertua yaitu Kyayi Brangsingha menjabat kanuruhan juru tulis Dalem. Kyayi Brangsingha digantikan oleh putranya yang bernama Kyayi Brangsinga Pandita. Setelah Kyayi Brangsinga Pandita wafat, Beliau digantikan oleh ketiga orang putranya, mengabdikan diri kepada Dalem.

 

 


BABAD ARYA PINATIH (1998)

 

BABAD ARYA PINATIH

Babad ini menceritakan tentang keturunan Manik Angkeran. Putra Beliau selanjutnya kawin dengan putri Sirarya Buleteng, dan inilah yang selanjutnya menurunkan keturunan Arya Pinatih.

Diceritakan, Mpu Siddhimantra di daerah Janggala tidak memiliki keturunan. Beliau kemudian membuat upacara homa bersaranakan seonggok arang disertai dengan permata sebesar ibu jari (sanggusta), dengan tujuan agar Beliau memiliki putra yang lahir dari kehebatan yoganya. Melalui upacara tersebut maka keluarlah seorang putra dan diberi nama Manik Angkeran.

Manik Angkeran, perilakunya sangat bandel, bukan main gemarnya berjudi, segala bentuk perjudian dikuasainya. Saat itulah ayahnya berpikir dalam hati, oleh karena memang kehendak dewata Beliau tidak berputra, lalu lahirlah seorang putra, beginilah akibatnya, habislah semua harta bendanya digadaikan oleh Sang Manik Angkeran, beserta tempat air suci (Siwambha) dijualnya, ayahnya menjadi bingung. Diceritakan Sang Manik Angkeran menghilang dari rumah. Ayahnya mencari ke sana ke mari, hingga tibalah di Besakih, dan di sana Beliau bertemu dengan Naga Basukih, dan Sang Naga memberitahukan bahwa putra Sang Mpu telah di rumah. Mulai saat itu mereka akhirnya bersahabat, dan Sang Mpu diberikan emas yang banyak oleh Sang Naga karena Sang Naga bersisikkan emas. Sang Naga meminta kepada Sang Mpu untuk merahasiakan hal tersebut. Akan tetapi rahasia tersebut akhirnya diketahui oleh Sang Manik Angkeran. Ia lalu pergi menemui Sang Naga, dan ia pun diberikan emas yang banyak. Akan tetapi Sang Manik Angkeran sangat loba, dan ia menginginkan permata intan yang berada pada ekor Naga Basukih itu, dan ditebaslah tempat intan permata itu. Sang Naga menjadi sangat marah, lalu bayangan Sang Manik Angkeran dipatuknya sehingga Sang Manik Angkeran hancur menjadi abu. Atas bantuan ayahnya, Sang Manik Angkeran akhirnya dapat dihidupkan kembali. Sang Naga Basukih menyatukan pikiran “garudheya” selanjutnya abu Sang Manik Angkeran diperciki tirta sanjiwani “tasmat”, sehingga Sang Manik Angkeran dapat hidup kembali, dan ia diserahkan oleh ayahnya kepada Sang Naga Basukih untuk menjadi tukang sapu di kahyangan Basukih. Untuk menghindari agar Sang Manik Angkeran tidak kembali lagi ke Janggala, maka oleh ayahnya, Gunung Rupek akan dihancurkan. Di Gunung Rupek, Sang Mpu beryoga, memusnahkan pelataran itu, menggores pelataran itu dengan tongkat Beliau, sehingga hancurlah Gunung Rupek itu, selanjutnya menjadi lautan sempit (segara rupek), sehingga putuslah Pulau Bali dengan Pulau Jawa, dipisahkan oleh Selat Bali.

 

 

 

 

Diceritakan di Bali, Sang Manik Angkeran tetap menjadi “juru sapuh” di kahyangan Basukih, hingga pada akhirnya diceritakan bahwa Sang Manik Angkeran menikah dengan cucu Ki Dukuh Blatung dan memiliki seorang putra yang bernama Sang Bang Banyakwide. Selanjutnya diceritakan Sang Manik Angkeran mengambil istri dari Kendran (surga) dan memiliki putra bernama Ida Tulus Dewa, sedangkan yang ibunya dari Pasek Wayabya bernama Ida Bang Kajakawuh, sehingga putra Sang Manik Angkeran seluruhnya adalah tiga orang.

Diceritakan setelah dewasa, Sang Bang Banyakwide kembali ke Janggala untuk mencari kakeknya, sedangkan kedua adiknya masih tetap tinggal di Bali. Di Janggala, Sang Bang Banyakwide bertemu dengan Mpu Sedah dan dijadikan anak angkat, dan hingga pada akhirnya bertemu dengan Ki Arya Buleteng dan menikah dengan putrinya yang bernama Ni Gusti Ayu Pinatih. Pernikahan mereka inilah yang pada akhirnya menurunkan keturunan Arya Pinatih.

Setelah Sang Bang Banyakwide menikah dengan putri Ki Arya Buleteng (madeg santana), Mpu Sedah berpesan kepada Sang Bang Banyakwide : “Kakek memberikan anugrah ucapan berkhasiat padamu, agar kamu masih disebut sebagai keturunan brahmana, sekarang kamu menjadi Arya Pinatih. Ini ada pemberian kakek kepadamu sebilah keris bernama Ki Brahmana, serta seperangkat perlengkapan memuja (siwapakaranan), pustaka weda. Itulah kamu junjung, sebagai pusaka leluhur, sebagai jati diri kamu adalah Arya Pinatih, yang berasal dari keturunan brahmana dahulu. Serta ada petuah-petuahku kehadapanmu, jika yang membawa ini nantinya ada yang pintar, boleh ia dijadikan pendeta, serta menyucikan diri beserta keluarganya, sampai pada ajalnya nanti. Jika yang meninggal disucikan menjadi pendeta: jika ia melaksanakan upacara kematian, boleh memakai upakara seperti apa yang dipakai oleh seorang brahmana sulinggih, boleh memakai padmasana, busana serba putih, serta upakaranya seperti seorang brahmana juga, juga sesuai dengan upakara seorang pendeta.”

Ida Sang Banyakwide setelah menikah dengan Ni Gusti Ayu Pinatih diikaruniai seorang putra bernama Ida Bang Bagus Pinatih. Setelah Ida Bang Bagus Pinatih dewasa, Beliau mengambil istri juga dari keturunan Arya Buleteng, dan memiliki putra bernama Ida Bagus Pinatih. Sang Bang Banyakwide yang telah berusia senja kemudian berpesan kepada anak cucunya agar mulai saat ini berhenti bergelar Ida Bagus, agar supaya bergelar Arya Bang Pinatih sampai kemudian hari. Setelah demikian, anak cucu Beliau menerima nasihat tesebut, dan selanjutnya menjadi Arya Wang Bang Pinatih, dan sudah diumumkan di seluruh daerah.

Larangan-larangan (cuntaka) Arya Pinatih adalah jika meninggal dunia sebelum tali pusar putus, mengambil cuntaka selama 7 hari jika yang meninggal dunia tali pusarnya sudah putus, cuntakanya selama 11 hari, tetapi belum tanggal giginya. Selanjutnya jika ia meninggal dunia sudah dewasa, remaja, atau sudah tua, cuntakanya 42 hari. Jikalau kemudian telah berkeluarga, apabila ada orang luar daerah datang, hendak ikut menjunjung pusaka Ki Brahmana beserta perangkat Siwopakarana dan mengaku Arya Pinatih, walaupun ia orang hina, orang biasa atau pun orang yang utama, jangan engkau tergesa-gesa, perhatikanlah dahulu, jika ia tidak mau menyatakan sumpah pada leluhur, walaupun ia orang hina dan bodoh, ia memang benar adalah keluarga, patut ia semua ikut menjunjung Ki Brahmana (batara kawitan). Walaupun tempatnya jauh, patut ia diikutkan. Selanjutnya seluruh keluarga Arya Bang Pinatih tidak diperbolehkan minum sumpah dewagama sesama keluarga satu rumpun. Jika melanggar, maka semuanya akan mendapat bahaya, tidak dapat disucikan kembali oleh Sang Dewa Raja Kawitannya walaupun oleh pendeta Siwa maupun Budha.


BABAD USANA BALI PULINA (1997)

 

BABAD USANA BALI PULINA

Babad ini menceritakan tentang keadaan Pulau Bali di masa lampau sampai datangnya para Arya ke Bali, yang pada akhirnya terbentuklah kerajaan-kerajaan di Bali.

Pada jaman yang silam, bertahta Sri Dalem Wira Kesari atau terkenal bergelar Dalem Salonding, beristana di lambung Gunung Tolangkir (Gunung Agung), keratonnya di Kahuripan. Lama kelamaan, juga dikisahkan bertahta seorang raja besar keturunan Warmadewa keturunan raja Salonding, berkuasa di Bali bergelar Sri Udayana, dengan didampingi oleh seorang Mpu yang agung bernama Mpu Kuturan. Berkat Mpu Kuturan, di Pulau Bali ada kahyangan tiga.

Diceritakan, Sri Erlanggia putra sulung Sri Udayana diundang ke Pulau Jawa oleh Maharaja Jawa Sri Darmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tungga Dewa dengan tujuan untuk dinikahkan dengan putri Beliau, hingga pada akhirnya Beliau menjadi raja besar di negara Daha. Lama kelamaan putra keturunan Sri Erlanggia bertahta menjadi raja di Bali menggantikan Sri Wala Prabu bergelar Sri Nari Prabu. Sri Nari Prabu digantikan oleh Sri Jaya Sakti. Putra Sri Jaya Sakti yang bernama Sri Jaya Kasunu belum berkenan menjadi raja karena mereka yang bertahta menjadi raja Bali, memerintah hanya setahun dua tahun kemudian wafat sampai dengan putranya. Tanam-tanaman mati, wabah penyakir menular tak henti hentinya, banyak korban jiwa, miskin dan melarat seluruh Pulau Bali. Kemudian Sri Jaya Kasunu beryoga samadi di parhyangan Batari Hyang Nini (Durga) di pura Dalem Kadewatan. Batari Durga lalu memberi petunjuk bahwa kenapa raja-raja Bali tidak lanjut usia adalah karena tiap-tiap TIGANING DUNGULAN tidak membuat upacara byakal, menyimpang dari tata terdahulu. Bila Sri Jaya Kasunu ingin menjadi raja maka ia wajib memelihara seluruh peraturan (sasana), wajib memelihara kahyangan dan kabuyutan serta tempat-tempat pemujaan. Tiap-tiap KALA TELUNING DUNGGULAN pada hari Selasa Wage, sang raja harus melakukan korban BYAKALA. Seluruh penduduk Bali bergembira ria berpesta di rumahnya masing-masing, membuat sesajen untuk para dewa-dewa, mendirikan PENJOR di setiap pintu pekarangan agar sesuai dengan tata cara masa-masa yang silam. Demikian hal tersebut terus dilakukan oleh Sri Jaya Kasunu hingga negara menjadi aman dan tentram, terhindar dari penyakit serta bahaya yang menyulitkan.

Setelah Sri Jaya Kasunu wafat, Beliau digantikan oleh putranya yang bergelar Sri Jaya Pangus. Pada masa pemerintahan Beliau inilah dilaksanakan upacara TAWUR EKA DASA RUDHA. Sri Jaya Pangus digantikan oleh Sri Eka Jaya Lancana. Sri Eka Jaya Lancana digantikan oleh Sri Masula Masuli atau Prabhu Buncing, seorang kembar buncing yang kemudian dinikahkan. Sri Masula Masuli atau Prabhu Buncing digantikan oleh Sri Hyang Siddhimantra. Karena Beliau melakukan yoga dan samadhi memuja Hyang Gnijaya, maka nama Beliau diganti dengan Sri Indra Cakru. Sebagai rajarsi, Beliau meninggalkan kerajannya dan digantikan oleh adindanya Sri Hyaning Hyang Adi Dewa Lancana. Sri Hyaning Hyang Adi Dewa Lancana digantikan oleh Sri Gaja Wahana atau Sri Tapolung dengan patihnya yang agung bernama Sri Pasung Grigis dan Kebo Taruna/Kebo Iwa.

Dikisahkan di Majapahit bertahta Sri Maharaja Dewi dengan maha patihnya yang terkenal bernama Gajah Mada dan Arya Damar. Gajah Mada dan Arya Damar mampu menciptakan ketertiban negara sehingga raja-raja di luar Majapahit semua tunduk pada raja/ratu Majapahit, sehingga mereka mempersembahkan utpeti setiap tahunnya. Akan tetapi tidak sama halnya dengan kerajaan Bali yang bersedia tunduk pada kerajaan Majapahit. Raja Bali merasa tidak senang dengan kebesaran kerajaan Majapahit, dan menginginkan kebesaran sendiri saja. Oleh karena itu, kemudian atas perintah ratu Majapahit, maka Mahapatih Gajah Mada melakukan penyerangan ke Bali. Dengan daya upaya, tipu muslihatnya maka Kebo Iwa dan Sri Pasung Grigis berhasil dikalahkan, putra mahkota pun wafat sehingga raja tidak sanggup menanggung duka lara hingga bulat tekad raja terjun ke dalam unggun api hingga wafat, dan Bali pun berhasil ditaklukkan oleh Majapahit.

Setelah Bali dapat dikalahkan, secara otomatis Bali berada di bawah kekuasaan Jawa (Majapahit). Para arya yang juga berjasa dalam penaklukan tersebut diberikan kekuasaan di daerah tersebut. Arya Kuthawaringin di Gelgel, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog di Kabakaba, Arya Dalancang di Kaphal, Arya Belentong di Pacung, Arya Sentong di Carangsari, Arya Kanuruhan Singhardula di Tangkas. Semuanya diperintahkan agar bersungguh-sungguh menjaga/mengatur wilayahnya. Semuanya diberikan pengarahan tentang tata cara memegang pemerintahan negara, dan tata cara seorang raja (raja sasana) sampai dengan ilmu kenegaraan (niti praya).

Setelah Bali ditaklukkan oleh Majapahit, maka yang kemudian bertahta di Bali bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan pada tahun Caka 1274. Beliau tidak mampu melaksanakan pengaturan negara, para arya Majapahit tidak berhasil baik mengatur orang-orang/penduduk Baliaga, sebab ternyata bukan hanya kekuatan senjata sebagai alat/jalan memperoleh kemenangan, akan tetapi siasat atau cara itu harus berdasarkan Sad Guna sehingga memperoleh Jananuraga yang utama. Bila raja tidak memiliki Jananuraga (suatu cara untuk dicintai oleh rakyat) maka tidak berguna semuanya itu, dan juga Asta Brata harus diterapkan agar supaya memperoleh keharuman. Pada akhir cerita diceritakan bahwa yang bertahta sebagai raja Nusa Bali adalah Sri Agung Jambe, dengan Beliau Sang Maha Pendeta yang berbudi luhur di Sukaton sebagai penasehat utama tentang tugas seorang ksatrya memegang pemerintahan/memimpin negara, sehingga berhasil baik.

 


BABAD BLAHBATUH, BABAD BRAHMANA (2000)

 

  1. BABAD BLAHBATUH

Babad ini menceritakan tentang raja Blahbatuh, Ki Gusti Ngurah Gede yang berceritera kepada adiknya bernama Ki Gusti Alit Oka tentang riwayat lelhur mereka, yang merupakan keturunan wesnawa.

Cerita ini dimulai dengan I Dewa Nyuh Aya, berputra tujuh orang laki-laki. Yang sulung Ki Gusti Patandakan bertempat tinggal di Karangasem, ada pula adiknya di Akah, di Cacaran, di Anggan, di Pelangan, menurunkan Pladug, Tambega, Prasi, di Kroping menurunkan Ngurah Kroping. Di Akah berputra Ki Gusti Dawuh Bale Agung yang menjadi bhagawan. Ki Gusti Ngurah Dawuh berputra Ki Gusti Ngurah Pande, Ki Gusti Anjar Rame. Ki Gusti Ngurah Pande berputra tiga orang laki-laki, yang sulung Ki Gusti Byasama, Ki Gusti Jalegog, Ki Gusti Plapung. Ki Gusti Cacaran berputra Ki Gusti Ngurah Jelantik. Pangeran Peninggungan berputra I Gusti Pangalesan Pasimpangan. I Gusti Pangalesan Pasimpangan berputra dua orang laki-laki yaitu Ki Gusti Ngurah Jelantik Wayahan dan Ki Gusti Ngurah Made Tenganan.

Ki Gusti Ngurah Jelantik Wayahan dijadikan anak angkat oleh Ki Gusti Dawuh, sedangkan Ki Gusti Ngurah Tenganan masih tinggal di Jelantik dan bergelar Ki Gusti Ngurah Jelantik. Keturunan Ki Gusti Ngurah Jelantik inilah yang kemudian secara turun-temurun menjadi penguasa di Blahbatuh dengan gelar yang sama pula.

 

  1. BABAD BRAHMANA

Dang Hyang Nirartha yang dijuluki dengan beberapa nama, pada awalnya Beliau tinggal di asrama bersama ayahnya di Wilwatikta. Setelah dewasa Beliau meninggalkan asrama itu menuju Daha. Begitu agama Islam mulai menyebar di Wilwatikta, sedikit demi sedikit kerajaan Majapahit yang pernah berkuasa di Nusantara mengalami kehancuran. Pembesar-pembesar kerajaan dengan pengikut setianya meninggalkan kerajaan, ada yang ke Pasuruan dan ada juga yang ke Brangbangan.

Seiring dengan perkembangan agama Islam yang begitu cepat, Dang Hyang Nirartha pun meninggalkan Daha menuju Pasuruan. Di Pasuruan Beliau sempat menikahi seorang putri, kemudian Beliau melanjutkan lagi perjalanan menuju Brangbangan. Dari Brangbangan Beliau menuju ke arah Timur dan menyebrang laut bersama keluarga, akhirnya mendarat di pesisir Barat pulau Bali. Dari sanalah Beliau melanjutkan perjalanannya lagi, dalam perjalanan itu Beliau mendirikan sejumlah bangunan suci dan menurunkan keturunan. Keturunan Beliau telah menyebar di seluruh Bali. Dari Bali Beliau melanjutkan perjalanan lagi menuju Sasak (Lombok) dan Sumbawa. Di Lombok pun banyak juga keturunan Beliau.


TUTUR SIWA BANDA SAKOTI (ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA-1999)

 

 

TUTUR SIWA BANDA SAKOTI

Lontar ini pada pokoknya menguraikan tentang ajaran Siwa, namun dalam beberapa uraiannya juga terdapat penyatuan antara ajaran Siwa dan Buddha, terutama yang berkaitan dengan cara mencapai kalepasan (kamoksan) yang menjadi inti dari isi lontar ini.

Siwa Banda Sakoti menguraikan wejangan Sang Hyang Siwa Banda Sakoti yang disampaikan kepada Mupu Kuturan mengenai kalepasan di dalam diri yang patut diajarkan oleh para Dang Guru kepada muridnya yang benar-benar ingin mengetahui tentang hal itu. Ada satu pesan yang disampaikan bahwa ajaran ini hendaknya hanya diajarkan kepada mereka yang benar-benar ingin berguru, dan jangan sekali-kali diajarkan kepada mereka yang bodoh, karena ajaran ini sangat rahasia, dan tidak patut untuk dibicarakan mengenai kesempurnaannya.

Pembicaraan diawali dengan pengutaraan dewa-dewa dan stananya di dalam tubuh, serta wujud, aksaranya, dan fungsinya. Di samping kalepasan menurut ajaran Siwa juga dupadukan dengan ajaran Buddha, seperti adanya penunggalan Sang Hyang Siwa Adnyana dengan Sapta Boddha yang meliputi: darana, diana, yoga, tarka, samadi, isawara-pramidana, kasunian, yang semuanya ini dapat digunakan sebagai jalan menuju kalepasan.

Di dalam lontar Siwa Banda Sakoti memang banyak diuraikan berbagai jalan atau cara mencapai kalepasan, termasuk stana dewa-dewa di dalam tubuh, dewa-dewa dalam benih aksara (bijaksara) yang memenuhi jagat raya ini. Namun sebagai inti ajarannya adalah panunggalan Sang Hyang Ongkara baik pada badan manusia, maupun pada alam semesta, yang bersifat sakala niskala dan sangat rahasia.


TUTUR KAMAHAYANIKAN (ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA-1999)

 

 

TUTUR KAMAHAYANIKAN

Sang Kamahayanikan mengajarkan tentang agama Buddha Mahayana kepada siswanya. Guru menerangkan tentang Sang Hyang Buddha jaman dahulu, jaman akan datang, dan jaman sekarang.

Mahayana memberikan kamahadayan yaitu kebahagiaan lahir dan bathin. Seseorang yang teguh melaksanakan Mahayana akan mendapatkan dwaya sambhara, jnana sambhara, dan punya sambhara. Mahayana adalah jalan yang suci menuju kalepasan. Oleh karena itu, Sang Guru sangat menekankan agar siswanya berpegang teguh pada ajaran Mahayanan. Seorang siswa pun harus bhakti kepada gurunya. Ia harus melayani guru sebaik-baiknya, dan ikhlas menyerahkan miliknya demi baktinya itu. Murid diberikan kebebasan mempertimbangkan ajaran guru, dan murid tidak dipaksa untuk mempercayai ajaran guru.


BABAD KSATRIYA TAMAN BALI, BABAD PAMANCANGAH KI GUSTI TEGEH KORI, BABAD BADUNG (2001)

 

  1. BABAD KSATRIYA TAMAN BALI

Sang Hyang Catur Muka mengutus Sang Subali datang ke Bali guna menata pemerintahan bersama saudaranya, termasuk Sri Jaya Rembat dan Ida Dalem Tawang.

Sang Subali melakukan yoga semadi memohon restu ke hadapan Bhatara Wisnu Bhuwana. Permohonan Sang Subali terkabulkan, akhirnya Beliau dianugrahi seorang bayi yang berbentuk “Cili”, namun hal itu diketahui juga oleh Jaya Rembat. Atas petunjuk Sang Subali, hendaknya “Cili” itu dipelihara dan diberi nama Sang Angga Tirta, bila telah dewasa namanya diganti menjadi Sang Anom.

Ida Dyah Mas Kung, putri Dalem Sekar Anggsana mengidap suatu penyakit, dan diputuskan untuk berobat kepada Sang Jaya Rembat yang berada di Tamanbali. Ida Dyah Mas Kung akhirnya sembuh dan penyakitnya tidak kambuh lagi. Rupanya di tempat inilah Ida Dyah Mas Kung telah menjalin cintanya dengan Sang Anom, sehingga akhirnya berlanjut ke pelaminan. Namun hubungan kedua anak muda ini diketahui oleh Dalem. Dalem begitu marahnya, dan memerintahkan pasukannya guna menangkap Sang Anom.

Tiba-tiba terdengarlah suara Sang Subali dari angkasa yang melarang Dalem untuk membunuh Sang Anom, karena Sang Anom adalah putra dari Sang Hyang Wisnu Bhuwana. Mendengar hal itu, Dalem pun terhenyak dan mempersilakan mereka berdua melangsungkan pernikahan.

Setelah begitu lama tinggal di Gelgel untuk melangsungkan upacara pernikahan dengan Ida Dyah Mas Kung, Sang Anom akhirnya kembali ke Tirta Arum. Istana Beliau disebut Tamanbali, dan Beliaulah yang menurunkan keturunan Ksatriya Tamanbali.

 

  1. BABAD PAMANCANGAH KI GUSTI TEGEH KORI

Diceritakan Dalem di Sweca Lingarsapura, pikiran Beliau begitu kacau karena hidangannya setiap hari selalu dikoyak oleh seekor burung gagak. Burung Gagak yang hina tersebut tidak dapat Beliau tangkap, demikian juga oleh seluruh rakyatnya, bahkan terus mengganggu. Akhirnya Beliau mengutus Ki Gusti Dawuh Balyagung, abdi Beliau yaitu putra dari Ki Gusti Tegeh Kori untuk mencari orang yang mampu menangkap atau membunuh burung gagak tersebut. Sebagai seorang abdi, Beliau tidak dapat menolak perintah, dan akhirnya Beliau berjalan menuju ke arah Barat yaitu Tabanan, di sanalah Beliau bertemu dengan Ki Pucangan yang sedang berburu.

Ki Pucangan diajak menuju istana Dalem, tiada begitu lama setelah bertemu dengan Dalem, Beliau pun melaksanakan tugasnya. Si burung gagak yang hina tersebut akhirnya dapat dibunuh. Dengan terbunuhnya burung gagak itu, pikiran Dalem pun menjadi tenang. Akhirnya Ki Pucangan diangkat sebagai abdi oleh Dalem dan diharapkan saling kasih-mengasihi dengan Ki Gusti Dawuh Balyagung dan Pengeran Tangkas.

  1. BABAD BADUNG

Arya Bebed, salah satu dari putra Arya Nglurah Papak, sebelum memerintah di Bandhanapura, Beliau meminta bantuan para dewa guna mendapatkan kewibawaan. Guna mendapatkan akan hal itu (kewibawaan), Beliau menuju puncak Gunung Batur bersama dengan Kyandagala. Setelah pada waktunya, Beliau mendapatkan apa yang dicita-citakan. Dengan demikian Beliau menjadi pintar, berani, dan lain sebagainya. Akhirnya beberapa desa dapat Beliau kalahkan, lebih-lebih setelah memerintah di Bandhanapura (Badung), kewibawaan Beliau menjadi semakin bertambah.


BABAD PURI ANDHUL JEMBRANA (2006)

 

BABAD PURI ANDHUL JEMBRANA

Babad ini berisikan tentang keberadaan Puri Andhul beserta keturunannya serta keterkaitan Puri Andhul dengan kerajaan Mengwi.

Diceritakan, Ki Gusti Basang Tamiang berasal dari bumi Brambangan memerintah di Jembrana. Setelah wafat, Beliau kemudian digantikan oleh Ki Gusti Brambang Murti. Ki Gusti Brambang Murti sangat sakti dan berkeinginan menyerang Brambangan, dan Brambangan pun berhasil dikuasainya.

Kini diceritakan, raja yang memerintah di negeri Singapura, Ki Gusti Panji Sakti berkeinginan menyerang Jembrana, sehingga pada akhirnya Jembrana dan Brambangan pun berhasil ditaklukkan. Setelah itu diceritakan pula, baginda raja di Mengwi, Ida Anake Ngurah Made Agung berkeinginan untuk berperang dengan Negeri Singapura, dan hingga pada akhirnya Negeri Singapura (Buleleng) pun dapat ditaklukkan, dan secara otomatis Jembrana dan Brambangan pun menjadi taklukan Kerajaan Mengwi.

Diceritakan, putra Ki Gusti Brambang Murti yang bernama Gusti Gedhe Giri, setelah Kerajaan Jembrana ditaklukan oleh Mengwi, sangat tunduk dan bakti terhadap Mengwi dan sering menghadap bersama putranya. Sangat berbahagia dan sejahtera menikmati kesenangan di Brambangan, memerintah negeri Jembrana. Gusti Gedhe Giri akhirnya meninggal dunia karena sudah tua. Karena akan dibuatkan upacara pitra yadnya, upacara maligya dan ngaluwer oleh Ki Gusti Ngurah Tapa dan Ki Gusti Made Yasa, maka Ki Gusti Made Yasa pergi ke Mengwi menghadap Ida Anake Agung Ngurah Made Agung untuk memberitahukan tentang upacara itu dan sekaligus mengundang agar sang raja berkenan hadir ke Brambang menyaksikan upacara itu, dan minta ben suci. Sekembalinya Ki Gusti Made Yasa dari Mengwi, Beliau didekati oleh seseorang dan mengatakan bahwa negeri Beliau di Brambang telah hancur akibat air bah dan semua isinya habis tanpa bekas. Raja Mengwi yang mengetahui hal itu lalu memerintahkan Ki Gusti Made Yasa untuk kembali menghadap ke Mengwi.

Ki Gusti Made Yasa karena belum beristri lalu oleh raja Mengwi diberikan seorang gadis bernama I Gusti Luh Resik. Setelah menikah dengan wanita yang diberikan oleh raja, Ki Gusti Made Yasa juga dipersilakan untuk kembali pulang ke Jembrana, dan rumahnya dinamakan Jro Andhul. Perintah raja, jika kelak mereka memiliki putra maka dinamakan I Gusti Gedhe Andhul.

Ki Gusti Made Yasa sangat rukun bersuami istri dengan Ni Luh Resik hingga pada akhirnya memiliki seorang putra dan diberi nama Ki Gusti Gedhe Andhul, dan menurunkan keturunan Puri Andhul berikutnya.


ALIH AKSARA DAN TERJEMAHAN TUTUR JATISWARA, TUTUR AJI SARASWATI, TUTUR CANDRABHERAWA (2004)

 

  1. TUTUR JATISWARA

Lontar ini merupakan sebuah lontar tutur yang pada pokoknya menguraikan tentang nasehat seorang ayah (orang tua) kepada anaknya agar selalu patuh dan bertingkah laku yang baik sesuai dengan petunjuk yang tersurat dan tersirat dalam sastra-sastra agama.

Seorang ayah memberikan nasehat kepada anaknya mengingat pengalaman yang ia alami pada saat anak-anak, bagaimana bertingkah laku yang baik yang patut dilaksanakan di dunia ini agar mendapatkan kerahayuan di dunia dan di akhirat. Nasehat inilah yang dapat dipakai bekal dalam mengarungi bahtera kehidupan.

 

  1. TUTUR AJI SARASWATI

Naskah ini pada dasarnya berisi ajaran tentang kesukseman, ajaran kerohanian tinggi yang isinya dapat dipilah menjadi dua yaitu: berisi ajaran tentang kesehatan dan ajaran hidup setelah mati yang dikenal dengan kamoksan. Dalam menguraikan ajarannya diawali dengan penyusunan Dasaksara, pengringkesannya menjadi Pancabrahma, Pancabrahma menjadi Tri Aksara, Tri Aksara menjadi Rwa Bhineda, Rwa Bhineda menjadi Ekaksara, dan juga diuraikan mengenai kedudukan dalam badan serta kegunaannya. Bila ingin menggunakan naskah ini sebagai sebuah tuntunan maka sebelumnya haruslah teliti, harus membandingkannya terlebih dahulu dengan naskah lain, dan juga perlu tuntunan seorang yang mumpuni di bidang itu untuk membukakan jalan karena jika sedikit saja keliru dalam mempelajari dan mempraktekkan maka akan berakibat fatal.

 

  1. TUTUR CANDRABHERAWA

Lontar Tutur Candrabherawa secara tekstual merupakan penggalan dari Kuntiyajna Nilacandra. Secara intrinsik tergolong lontar tutur/tatwa, disusun dalam bentuk prosa menggunakan bahasa Sansekerta singkat dan bahasa Kawi sebagai penjelasan.

Tokoh sentral yang ditampilkan dalam naskah ini adalah Yudisthira Kresna, raja Astina-Dwarawati. Kedua raja ini adalah penganut Siwaisme beserta seluruh rakyatnya. Sedangkan Sri Candrabherawa adalah raja Kerajaan Dewantara, penganut Buddhisme beserta seluruh rakyatnya. Siwaisme yang dianut oleh Yudisthira-Kresna menekankan pada aspek ajaran Karma Sanyasa. Sedangkan Budhisme yang dianut oleh Candrabherawa menekankan pada aspek ajaran Yoga Sanyasa.

Ajaran Karma Sanyasa berpusat pada pembangunan tempat suci, persembahan sesaji yang dikenal dengan Panca Yadnya, dan penyembahan kepada dewa. Sedangkan ajaran Yoga Sanyasa adalah sebaliknya, tidak ada tempat suci, tidak ada persembahan, tidak ada penyembahan kepada dewa. Yang dipuja adalah Sang Hyang Adhi Buddha dengan mempelajari Bajradhara. Tidak ada dewa di luar (tempat suci), tetapi ada dalam diri. Maka itu, dewa dalam diri harus dipuja, agar lepas dari sorga dan neraka, tidak terlahirkan lagi.

Menurut Yudisthira-Kresna, hal yang demikian adalah tidak sesuai dengan ajaran Dharma Sasana dan ajaran Panca Yajna. Lebih-lebih dengan adanya pembangunan istana seperti sorga, kahyangan, penobatan Sri Candrabherawa sebagai Sri Parama Guru/Bhatara Guru, dan para patihnya diberi nama seperti layaknya nama-nama dewa di kahyangan. Hal inilah yang menyebabkan Yudisthira-Kresna murka dan menyerbu Kerajaan Dewantara.

Dalam peperangan tersebut, satu persatu para ksatria Pandawa berhasil ditaklukkan oleh Sri Candrabherawa, termasuk pula Sri Kresna berhasil dikalahkan. Akhirnya Yudisthira maju menghadapi Sri Candrabherawa mengadu kesaktian, yaitu dengan melepas roh dari raga masing-masing secara bergantian. Dalam adu kesaktian ini, Yudisthira menggelar aji kalepasan, maka lepaslah atma Yudisthira dari raganya, dan oleh Candrabherawa atma tersebut secepatnya ditangkap dan dimasukkan kembali ke raga Yudisthira hingga Yudisthira hidup kembali. Kemudian Candrabherawa melepaskan atmanya dari dalam raganya dan langsung menghadap Bhatara Guru memohon agar tidak diberitahukan dimana tempatnya kepada Yudisthira, sehingga Yudisthira menjadi kebingungan mencarinya. Kemudian Yudisthira pergi menghadap Bhatara Nilakanta, Bhatara Guru. Di situlah Yudisthira mendapat penjelasan bahwa Sri Candrabherawa merasa malu jika kesaktiannya diketahui oleh Yudisthira, karena ia hanya mempercayai Yoga Sanyasa sebagai jalan satu-satunya untuk mencapai kesempurnaan tertinggi, dengan mengabaikan Karma Sanyasa. Yudisthira pun diberi tahu bahwa atma Sri Candrabherawa berada di “Anta Sunya”, dan segeralah atma Sri Candrabherawa ditangkap dan dimasukkan ke dalam raganya sehingga Sri Candrabherawa hidup kembali.

Setelah Sri Candrabherawa hidup kembali, segeralah menyembah kehadapan Yudisthira. Yudisthira kemudian memerintahkan kepada Sri Candrabherawa agar mengikuti ajaran Dharma Sasana dengan seluruh rakyatnya. Tidak lagi ‘amada-mada’ kahyangan, seperti memberi nama para mantri dengan nama dewata.

Demikianlah, Ajaran Karma Sanyasa maupun Ajaran Yoga Sanyasa sesungguhnya tidak ada yang lebih tinggi salah satu darinya. Keduanya akan dapat mengantarkan seseorang untuk mencapai kesempurnaan tertinggi. Karma Sanyasa dan Yoga Sanyasa adalah ‘ayah-ibu’ masyarakat.


BABAD ARYA KEPAKISAN (1998)

 

 

BABAD ARYA KEPAKISAN

Babad ini menceritakan tentang keturunan Arya Kepakisan di Bali. Arya Kepakisan adalah putra dari Arya Kadhiri, yang datang ke Bali diikuti oleh para bangsawan Kepakisan. Dinamakan Kepakisan karena pakis berarti paku, dipakukan menjadi raja oleh Mpu Dang Guru. Arya Kepakisan dijadikan raja oleh Rakryan Madha. Arya artinya Wisnu, yakni Bhatara Hari, hakikatnya keluarga bangsawan keturunan Wisnu, tiada kesatria yang berasal dari Batara Brahma, karena berasal dari Batara Wisnu asalnya. Itulah sebabnya raja yang baru tiba dinamakan Sri Kresna Kepakisan. Sri berarti raja, Kresna berarti Wisnu. Demikianlah atas kebijaksanaan Mahapatih Gajahmadha. Itulah sebabnya Sri Kresna Kepakisan beserta Arya Kepakisan terutama para Wesia dari Jawa bersama-sama pergi ke Bali atas perintah patih Gajahmadha sebagai penjelmaan Wisnu yang menjadi menteri dan paham akan perihal kenegaraan.

Sri Kresna Kepakisan keturunan Brahmana menjadi raja di Bali dan Arya Kepakisan menjadi patihnya, diiringi oleh para arya yang dilantik, terutama para Wesia dari Jawa sebagai delapan penjaga raja yang berkuasa di Samprangan. Arya Kepakisan memiliki dua orang putra yang bernama Arya Asak dan Arya Arya Nyuhaya. Merekalah yang selanjutnya menurunkan keturunan berikutnya. Demikianlah keturunan Arya Kapakisan pada jaman dahulu.


ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA LONTAR SRI PURANA TATTWA (2004)

 

LONTAR SRI PURANA TATTWA

Sri Purana Tattwa adalah salah satu lontar purana yang memakai bahasa Jawa Kuna. Isinya mengandung ajaran agama hindu yang memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewi Sri, yang menganugrahkan kesejahteraan serta melindungi segala jenis tanaman pertanian. Sri Purana Tattwa menguraikan tentang sistem ritual dalam mekanisme pengolahan sawah dari permulaan/awal kegiatan sampai akhir panen termasuk juga pengendalian hama dan penyakit melalui upacara dan upakara panangluk marana.

 


BABAD BULELENG, BABAD ARYA GAJAH PARA, BABAD KI TAMBYAK

TEKS DAN TERJEMAHAN (2000)

 

  1. BABAD BULELENG

Diceritakan setelah kalahnya Raja bedahulu di Bali, akhirnya keadaan Bali pada saat itu menjadi tenang, sedangkan Patih Nirada Mada menjadi tidak senang. Disebutkan ada seorang pendeta yang sangat sempurna bernama Dang Hyang Kepakisan. Beliau berputra tiga orang laki-laki dan seorang wanita. Salah satunya dimohon menjadi raja oleh Gajah Mada di Bangsul (Bali) bernama Sri Dalem Kresna Kepakisan. Baginda beristana di Samprangan, dan setelah beberapa generasi terakhir digantikan oleh Dalem Sagening. Diceritakan pula Arya Kepakisan menjadi mahapatih di daerah Bali. Beliau berputra dua orang yaitu Arya Nyuh Aya dan Arya Asak.

Diceritakan Si Luh Pasek Panji dari desa Panji, ia mengabdi kepada Sri Aji Dalem Sagening. Setelah ia menginjak dewasa, suatu ketika Sri Aji Dalem Sagening secara tidak sengaja menginjak tanah bekas air kencing Si Luh Pasek yang terasa panas. Demikianlah akhirnya Si Luh Pasek berhasil digauli oleh Sri Aji Dalem Sagening, dan tak berapa lama maka hamillah Si Luh Pasek.

Suatu ketika, Sri Aji Dalem Sagening ingin menghadiahkan sesuatu kepada Ki Gusti Ngurah Jarantik atas pengabdiannya, maka diserahkanlah Si Luh Pasek Panji. Tidak diceritakan maka lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Ki Gusti Barak Panji. Setelah dewasa, berdasarkan pertimbangan keamanan, Ki Gusti Barak Panji meninggalkan istana disertai oleh ibunya Si Luh Pasek Panji diiringi oleh Ki Dumpyung, Ki Dosot, beserta sejumlah pengiring abdinya berjumlah tiga puluh orang. Akhirnya tibalah Beliau di desa Panji. Saat itu desa Panji dikuasai oleh Ki Pungakan Gendis. Berkat kesaktian keris Ki Semang akhirnya Ki Pungakan Gendis tewas tanpa diketahui siapa pembunuhnya.

Diceritakan ada perahu milik Ki Empung Awang yang terdampar di pesisir desa Panimbangan. Perahu itu sarat dengan barang bawaan. Barang siapa yang dapat mendorong perahu tersebut akan dihadiahkan semua isi perahu. Dengan bantuan keris Ki Semang akhirnya Ki Gusti Panji berhasil menyelamatkan perahu itu. Begitulah Ki Gusti Ngurah Panji dengan bantuan keris Ki Semang serta didukung oleh pribadinya yang welas asih akhirnya berhasil memimpin masyarakat desa Gendis. Selanjutnya beliau dinobatkan dan bergelar Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, karena kesaktiannya yang luar biasa, dan Beliau menetap di Istana Sukasada.

Setelah beberapa lama pemerintahan Sri Panji Sakti, tidak ada yang berani menentang perintah Beliau dan tetap tinggal di Istana Sukasada. Akhirnya Beliau menurunkan beberapa keturunan. Setelah Beliau wafat digantikan oleh putranya yang tertua yang bernama Ki Gusti Ngurah Panji Gede. Demikianlah putra-putra Beliau yang lain, semua berada di Singaraja.

 

  1. BABAD ARYA GAJAH PARA

Diceritakan Bali telah menjadi kekuasaan Majapahit. Walaupun demikian, di belahan Bali Timur terus terjadi gejolak penentangan. Untuk meredam gejolak tersebut, diutuslah Sirarya Gajah Para dan Sirarya Getas. Akhirnya kedua arya tersebut tinggal di Sukangeneb, Toya Anyar, dan menurunkan beberapa keturunan. Selanjutnya Sirarya Getas diutus untuk mengadakan penyerangan ke Selaparang, dan Beliau pun akhirnya menetap di sana (Praya).

Diceritakan Sirarya Gajah Para telah wafat. Setelah wafatnya Sirarya Gajah Para, maka terjadilah pertikaian antara cucu-cucunya yang berakibat cukup fatal. Dua bersaudara meninggal dalam perkelahian. Dua orang janda beserta putranya masing-masing meninggalkan Toya Anyar, ada ke Tanggawisia, dan ada yang ke Gelgel. Setelah peristiwa itu, keturunan Arya Gajah Para tersebar di desa-desa di Bali serta mengembangkan keturunannya masing-masing.

 

  1. BABAD KI TAMBYAK

Ki Tambyak adalah putra dari Begawan Maya Cakru. Semenjak lahir ia ditinggal oleh orang tuanya dan akhirnya ia dijadikan anak angkat oleh Kebayan Panarajon. Ia kemudian tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan berilmu sehingga disegani masyarakat lingkungannya, bahkan raja Bedahulu pun mengangkatnya sebagai seorang patih.

Pada suatu saat diceritakan Ki Tambyak bertemu dengan Arya Notor Waringin. Dalam pertemuan tersebut mereka berdua sepakat untuk bersemedi. Dengan ketekunan semadinya akhirnya mereka dianugrahi daerah kekuasaan, yang mana daerah tersebut pada akhirnya disebut daerah Badung. Di daerah inilah mereka menjalankan roda pemerintahan. Lama- kelamaan Ki Tambyak ingkar dengan kepercayaan yang telah dibangunnya sehingga ia diusir ke daerah Pecatu. Demikian seterusnya ia beserta keluarganya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

 

Bali Culture Government Info

Newsletter

Recent Photos

Flickr + Highslide encountered an error

Error: SSL is required